foto

kampung gajah Foto: Wicak S/Dok Kampung Gajah



Tak Ada Gading di Kampung Gajah

TEMPO Interaktif: Bagi Eko Juniarto, perjalanan menuju kantor tak pernah membosankan. Di dalam kendaraan, manajer pengembangan teknologi informasi di sebuah penyedia layanan komunikasi satelit ini asyik mengakses Internet. Sekejap kemudian, pria berusia 36 tahun itu sudah sibuk berkomunikasi dengan teman-temannya di Kampung Gajah.

Benih Kampung Gajah, sebuah perkumpulan di dunia maya yang membahas beragam hal, berawal pada Juni 2004. Pada tahun itu Google meluncurkan layanan surat elektronik Gmail, yang masih dalam versi Beta (percobaan). Untuk bergabung, peminat harus mendapat undangan dari pengguna yang sudah terdaftar lebih dulu, atau bersabar menunggu undangan dari Google.

Muncul ide dari Risiyanto Budi, seorang programmer, yang membuat milis  id gmail@googlegroups.com. Milis ini dibuat untuk berbagi undangan Gmail. Nah, ID-Gmail inilah yang kemudian menyedot berbagai anggota Kampung Gajah. Risiyanto pun digelari sebagai “Pak Erte”.

Dari sekadar milis berbagi undangan, ID-Gmail terus berkembang dan anggotanya bertambah hingga ratusan. Tak hanya kalangan melek teknologi informasi--yang penasaran dengan kemampuan Gmail--bergabung pula para desainer, pehobi fotografi, pegawai negeri sipil, konsultan keamanan informasi, insinyur teknik, praktisi iklan, bahkan siswa SMP. Sebagian besar anggota sudah memiliki blog sendiri.

Sehari-hari para anggota berkomunikasi lewat milis. Para anggota menyebut aktivitas berbalas e-mail itu nge-junk. "Sebagian besar berinternet di jam kantor, membahas bermacam hal," kata Maria Golda (9olda.net), yang bekerja di Taman Safari Indonesia.

Tema di milis hampir seperti percakapan biasa. "Out of topic adalah topik kami," ujar Henny Rolan, 26 tahun. Sering kali lalu lintas surat-menyurat yang menembus angka 30 ribu kali per bulan itu hanya berisi sederet kalimat singkat, istilahnya one-liner. Google mengkategorikan milis ini beraktivitas tinggi.

Hal-hal yang dibahas tak melulu mengenai perkembangan terbaru dunia maya. Topik politik, ekonomi, tip menghindari lowongan kerja palsu, hingga kritik terhadap media sering muncul. Ada pula yang mereportase kegiatan maupun peristiwa di sekelilingnya, lengkap dengan foto yang dikirim dari perangkat bergerak.

Ketika sebuah mobil tertimpa crane di kawasan Sudirman Central Business District, misalnya. Dalam sekejap, foto-foto kecelakaan itu sudah berderet di milis. Begitu pula saat sebuah kampus teologi di Jakarta Timur diserang. Acha Mardiansyah, “gajah”--sebutan bagi anggota komunitas ini--yang kebetulan berdiam di Kampung Pulo, dekat lokasi kejadian, selalu mengabarkan perkembangan di sana.

Keakraban tak hanya di milis, tapi merambah pula ke kehidupan nyata. Di antara ratusan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa kota di luar negeri, puluhan di antaranya kerap menggelar temu darat di kota masing-masing. "Mulai dari sekadar makan bersama seusai jam kantor, menonton film di bioskop, menghadiri pernikahan, sampai bakti sosial," kata Henny.

Bila ada “gajah” mendapat musibah, tak jarang gajah lainnya membantu secara moral maupun materiil. Saat seorang anggota berkunjung ke kota lain, kata Henny, biasanya gajah lain di kota itu akan berkumpul untuk kopi darat. Kampung Gajah juga senantiasa meramaikan acara komunitas blog. Beramai-ramai mereka hadir di Pesta Blogger 2007 lalu.

Ingin bergabung dengan para gajah? Syaratnya mudah. Hanya siap bersabar dan jangan cepat marah. "Berani gabung, berani nggak pake marah," kata Rahmadian Lestari Arbianita, 36 tahun, yang didaulat para gajah sebagai "Sekretaris RT" Kampung Gajah.

Ibnu Rusydi