Formula Harga Tangguh Harus Ikuti Pasar


TEMPO Interaktif, Jakarta : Pengamat perminyakan, Kurtubi mengatakan bahwa formula harga jual gas alam cair (LNG) Tangguh ke Fujian Cina harus diubah. "Formulanya harus diubah menjadi mengikuti harga minyak di pasar internasional agar tidak merugikan," katanya, Selasa (2/9).

Saat ini, dalam kontrak penjualan gas Tangguh, Indonesia mesti memasok ke Cina 2,6 juta ton per tahun untuk masa 25 tahun dengan formula pembatasan harga jual Japan Crude Cocktail US$ 38 per barel. Harga itu akan tetap meskipun harga minyak dunia berubah. Sehingga saat harga minyak melonjak naik seperti saat ini (di atas US$ 100 per barel), pemerintah tidak dapat menaikkan harga. Akibatnya terjadi perbedaan harga jual gas di Tangguh dengan di Badak yang harga Crude-nya tidak dibatasi. Pada harga jual dengan harga minyak US$ 130 per barel, Tangguh akan tetap memiliki harga US$ 3,35 per mmbtu, sedangkan di Badak mencapai US$ 19,5 per mmbtu.

"Harga LNG Tangguh hanya 22 persen dari LNG Badak, karena LNG harga JCCnya dibatasi maksimal US$ 38 tidak bisa berubah, dan tidak bisa fleksibel mengikuti perkembangan pasar," ujar Kurtubi.

Saat ini pemerintah sedang membentuk tim khusus negosiasi harga gas Tangguh. Dirjen Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Alam, Evita Herawati Legowo sempat mengatakan bahwa penggunaan formula lama akan lebih mudah untuk diterapkan dalam negosiasi nanti. "Tinggal mengubah batas atas dan batas bawahnya," katanya saat dihubungi Tempo, Senin (1/9) malam. "Kalau bisa batas atasnya di atas US$ 100," tambahnya
Namun Kurtubi mengatakan jika pemerintah tetap menerapkan formula awal dengan hanya melakukan perubahan pada angka batas atas dan batas bawah, pemerintah akan tetap berpotensi merugi. Pasalnya harga komoditi energi (minyak, batu bara, dan gas bumi) saling berkorelasi dan bergerak bersama.

 "Kalau harga minyak turun, harga gas dan batu bara akan ikut turun, begitu juga sebaliknya, itu adalah data empirik," kata Kurtubi. Selain itu minyak dan gas bumi adalah energi yang tidak dapat diperbarui. "Artinya semakin lama harganya akan semakin mahal, kontrak Tangguh itu berlangsung selama 25 tahun, saya yakin 20 tahun mendatang harga minyak bisa mencapai US$ 200 per barel, sehingga jika kita patok batas atas US$ 100 pun akan berpotensi merugi," paparnya. "Menurut saya, formula yang paling tepat adalah yang mengikuti harga minyak di pasar internasional lebih menguntungkan, contohnya pada LNG Badak" tambah Kurtubi.

Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro mengatakan rendahnya harga jual gas Tangguh itu karena pada saat penandatanganan kontrak (tahun 2002), harga gas internasional memang sedang buruk. "Penjualnya banyak,... harga (gas) lagi jelek, orang tidak akan mengira bahwa harga akan seperti saat ini, dimana minyak meloncat hingga ke US$ 110-150 per barel," kata Purnomo.

Kurtubi menolak alasan Purnomo yang mendasarkan persetujuan formula harga jual gas Tangguh pada kondisi buyer market saat penandatanganan kontrak. "Jelas alasan buyer market (harga gas yang sedang jelek) tidak tepat karena sifat harga LNG dunia selalu naik turun, sehingga dengan pembatasan itu, saat harga LNG internasional naik seperti sekarang, kita rugi," katanya. Karena itu Kurtubi meminta agar pemerintah mengusut kasus penjualan gas Tangguh hingga tuntas. "Terutama departemen teknis (Departemen Energi dan BP Migas), Menteri Energi harus bertanggung jawab karena mereka yang tahu perhitungan rumus dan formulanya," kata Kurtubi. Tempo| Agung Sedayu


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X