Daging Sapi Gelonggongan Ditemukan di Pasar-pasar
Topik
TEMPO Interaktif , Solo: Saat kebutuhan daging di bulan Ramadan meningkat, ternyata banyak pedagang daging yang nakal. Mereka menjual daging sapi gelonggongan. Di Solo, misalnya, Dinas Pertanian Kota Surakarta menemukan adanya daging sapi yang diduga gelonggongan di empat pasar, dari 25 pasar yang diawasi. Namun para pedagang yang kedapatan menjual belum mendapatkan tindakan. Direncanakan Dinas Pertanian akan segera menggelar operasi yustisi bersama beberapa dinas terkait.
“Daging sapi kita temukan dalam keadaan semi basah,” kata Weni Ekayanti, Pelaksana Harian Kepala Dinas Pertanian Kota Surakarta. Daging yang diduga berasal dari sapi gelonggongan tersebut ditemukan di Pasar Legi, Pasar Hardjodaksino, Pasar Gading dan Pasar Nusukan.
“Kuantitas yang diketemukan cukup kecil,” kata Weni tanpa menyebutkan angka pasti. Keempat pasar tersebut merupakan pasar yang cukup besar dan menjadi tempat grosir bagi pasar-pasar kecil lainnya. “Nyatanya di pasar lain tidak diketemukan,” katanya menganalisa.
Daging sapi gelonggongan tersebut ditengarai merupakan pasokan dari luar daerah. Sebab untuk sapi yang dipotong di dalam kota Solo, semua telah melalui pengawasan dari pihak Dinas Pertanian.
Namun dalam pengawasan tersebut Dinas Pertanian belum memberikan sanksi apa pun kepada para pedagang yang kedapatan menjual daging gelonggongan. “Sebab kita baru melakukan pengawasan sendiri, belum melibatkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil,” katanya. Dalam waktu dekat dirinya akan berkoordinasi dengan dinas terkait, terutama Satuan Polisi Pamong Praja untuk melakukan operasi yustisi di semua pasar.
Weni juga mengakui bahwa daging sapi gelonggongan secara kesehatan tidak layak untuk dikonsumsi. “Karena kandungan air yang banyak, mikroorganisme mudah berkembang,” katanya. Hal tersebut menyebabkan daging menjadi mudah busuk. Selain itu, banyak sapi yang akhirnya mati ketika proses penggelonggongan. “Matinya bukan karena disembelih,” katanya. Daging sapi gelonggongan juga akan menyusut hingga 50 persen ketika dimasak.
Beberapa pedagang daging di Pasar Legi menyatakan enggan untuk menjual daging sapi gelonggongan. “Resikonya besar,” kata Wahyuningsih (43), salah seorang pedagang. Dirinya mengakui jika harga daging sapi gelonggongan relatif lebih murah. “Bisa terpaut Rp 7 ribu per kilo,” katanya. Namun selain resiko terjaring operasi, menurutnya resiko daging membusuk sebelum laku juga cukup besar, sehingga pedagang berpotensi untuk rugi. “Belum lagi kalau kehilangan pelanggan yang merasa dirugikan,” lanjutnya.
Tempo/Ahmad Rafiq
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Layani KJS, RS Port Medical Rugi 20 Persen
- Pemenang Lotere Rp 5,7 Triliun Masih Misterius
- Jusuf Kalla Kembali Terpilih Jadi Ketua CAPDI
- FOTO: Jelang Waisak, Samanera Cuci Patung Budha Tidur
- Gadis Pemotong 'Burung' Dijerat Pasal Penganiayaan
- Pria Ini Bergulat dengan Pithon Sepanjang 5,4 M
- Kementerian Kehutanan Gandeng TNI untuk Merehabilitasi Hutan
Berita Utama Nasional
- Hasil Investigasi Terbakarnya KRI Klewang Ditunggu
- Jhonny Allen Ternyata Belum Tersangka
- Darin Mumtazah Sudah Dua Kali Dipanggil KPK
- Rusuh 1998, Jimly Segan ke Wiranto dan Prabowo
- Polisi Cokok Gembong Penyelundup Manusia dari Iran
- Keluarga Korban Cebongan akan Cek Tersangka
- Lagi, KPK Sita Rumah Luthfi Hasan di Kebagusan













