Daging Sapi di Yogyakarta Akan Dipantau  


TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta akan memeriksa ulang daging sapi yang menggunakan air untuk menaikkan berat daging. Pemeriksaan juga akan diarahkan kepada bangkai daging ayam yang banyak ditemukan di pasar.

"Kami juga akan melakukan pemantauan mendadak di pasar-pasar," kata Kepala Bidang Bina Produksi Peternak Dinas Pertanian, Daryadi, kepada Tempo, Selasa (2/9), di Yogyakarta.

Menurut Daryadi, daging berisi air, atau yang biasa disebut daging glonggong, umumnya berasal dari Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, yang dikenal sebagai produsen daging sapi. Namun demikian, pihaknya tidak mengeluarkan kebijakan khusus terkait daging-daging sapi dari Boyolali itu. Daryadi lebih memilih untuk melakukan pemeriksaan ulang dan pemantauan ke pasar-pasar.

Dan dari sekian pasar yang ada di seluruh wilayah Yogyakarta, pemantauan akan diprioritaskan di pasar-pasar yang ada di Kota Yogyakarta. Alasannya, konsumen daging sapi lebih banyak terdapat di kota Yogya ketimbang di kabupaten lain.

Daryadi lantas menghimbau kepada masyarakat untuk hati-hati dan teliti sebelum membeli daging di pasar. Ia memberikan ciri-ciri, diantaranya kebiasaan para pedagang daging sapi glonggong yang tidak menggantungkan dagingnya, melainkan hanya diletakkan di atas meja. Jika digantung, kata Daryadi, akan banyak air yang menetes. Selain itu, kualitas daging glonggong tidak tahan lama sehingga cepat busuk. Namun soal warna daging, menurut Daryadi tak ada bedanya dengan daging yang baik.

Selain daging glonggong, pengawasan juga akan dilakukan terhadap daging ayam. Sebab, bangkai daging ayam lebih banyak beredar di pasar. "Tahun lalu, daging glonggong tidak ada, tapi daging bangkai ayam banyak," kata Daryadi.

Sementara itu, para pedagang daging sapi di sejumlah pasar enggan berkomentar soal daging glonggong.

"Ikut pemerintah saja," ucap salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Sentul Kota Yogyakarta.

Pito Agustin Rudiana

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X