sakit perut
Topik
Waspadai Gangguan Pencernaan selama Puasa
TEMPO Interaktif, Jakarta: Dani tampak gembira menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Gadis 25 tahun ini menganggap bulan suci Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat Islam di muka bumi ini. Tetapi, di bulan suci yang penuh ampunan dan penuh makna ini tak selalu membuat hati Dani ceria. Hampir setiap bulan puasa tiba, dia kerap mengeluh karena perutnya terasa sakit dan tidak nyaman. Terutama setelah buka puasa dan makan sahur. "Perut terasa cepat kenyang dan kadang sakit. Padahal selama ini tidak ada gejala sakit maag," kata Dani.
Dani pun sudah berusaha mengatasi gangguannya itu dengan mengkonsumsi obat sakit maag yang banyak dijual di pasaran, tetapi hasilnya tetap nihil. Perut terasa penuh dan cepat kenyang serta sering bersendawa masih terus dialaminya. Hingga seorang kawan di kantor memberitahu kalau gangguan perut seperti yang dialaminya itu tidak selamanya karena sakit maag. "Mungkin karena makannya terlalu cepat, akibatnya perut jadi kembung," begitu Dani menirukan ucapan temannya.
Memang benar, Dani mengakui kalau saat buka puasa tiba biasanya langsung makan makanan yang berat seperti nasi plus lauk lengkap dengan sayur mayur. Apalagi, disaat makan pun ia biasanya menelan makanan dengan cepat. Jadilah perut terasa penuh dan cepat kenyang padahal makanan di piring masih sisa setengah. Kolak, puding, es kelapa muda, serta makanan yang lezat lainnya tak sempat ia cicipi.
Akibatnya makanan tidak dapat diurai dengan sempurna yang menyebabkan perut terasa sangat tidak nyaman. Yang paling mudah dilihat adalah perut akan terasa penuh (sebah) karena menelan makanan terlalu cepat sehingga gas juga ikut tertelan. Kebiasaan makan dan minum secara terburu-terburu biasanya juga akan dialami pada saat makan sahur.
Menurut dr. Maria Margaretha dari PT Medifarma Laboratories, Inc., menelan makanan secara terburu-buru memungkinkan udara ikut tertelan ke dalam perut. Jadinya perut tidak saja terisi makanan dan minuman tetapi juga gas yang apabila berlebihan dapat menyebabkan perut terasa penuh, cepat kenyang, serta bersendawa atau buang angin secara berlebihan. "Gas yang berlebihan di dalam perut itu bisa terjadi karena kinerja enzim dalam sistem pencernaan tidak mampu bekerja secara maksimal," jelas dr. Maria.
Di dalam sistem pencernaan kita, kata dr. Maria, terdapat beberapa macam enzim yang berperan di dalam membantu proses pencernaan seperti protease, amylase, dan lipase. Masing-masing enzim tersebut bekerja di tempat yang berbeda dan melakukan reaksi enzimatis untuk memecah makanan menjadi nutrisi yang dapat diserap tubuh.
Enzim protease akan mengubah protein di dalam makanan menjadi asam amino. Asam amino inilah yang berperan penting untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dan membangun sel tubuh. Sementara itu, enzim amylase akan mengubah karbohidrat menjadi gula dan berfungsi sebagai sumber energi. Sedangkan enzim lipase berfungsi untuk mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol sebagai pelindung organ tubuh. "Meskipun asupan makanan bergizi dan vitamin terpenuhi, tetapi produksi enzim terganggu akan menyebabkan proses pencernaan tidak dapat berlangsung dengan sempurna," katanya.
Terganggunya produksi enzim ini bisa disebabkan oleh berbagai hal. Misalnya, pola makan yang kurang baik (mengunyah terlalu cepat, mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak), penyakit radang pankreas (pankreatitis), serta semakin bertambahnya usia. Kurangnya produksi enzim ini dapat mengakibatkan gangguan pencernaan seperti nyeri perut, kembung, kadang disertai diare atau susah buang air besar atau dalam bahasa medisnya disebut sindrom dyspepsia.
dr. Maria mengingatkan, sekalipun sedang menjalani ibadah puasa, hendaknya tetap memperhatikan pola makan yang baik serta pola hidup sehat. Yakni, dengan mengkonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang mencukupi, olah raga ringan, serta cukup istirahat.
Koran Tempo