Padi Super Toy Bikin Petani Letoy


TEMPO Interaktif, Purworejo: Warga Desa Grabag, sekitar 20 kilometer Selatan Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah siap menyongsong Lebaran. Lahan pertaniannya yang subur dan tanaman padi yang segera dipanen, membuat hati mereka bungah menyambut hari bahagia nanti.

Angan-angan menikmati Lebaran buyar ketika melihat tanaman padi mereka aneh. Tanaman padi yang sudah merunduk dan menguning, ternyata tak berisi alias kopong. Padahal, jenis tanaman ini dinyatakan oleh pemerintah varietas unggul yang bisa dipanen tiga kali dalam sekali tanam.

Karakteristik khusus dari padi Super Toy HL-2 ini ada pada batangnya yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan jenis lainnya, yaitu sekitar 70 sentimeter. Sebagai akibat tanaman padi yang terlalu tinggi tersebut, tanaman cepat roboh karena tiupan angin. Hal inilah yang menjadi kendala petani selama ini.

Benih galur padi Super Toy HL-2 adalah hasil persilangan dari benih padi Rojolele dan Pandan Wangi. Proses persilangan ini dilakukan beberapa tahap, diantaranya dengan menggunakan teknologi enzim, penyilangan penggunaan air, dan pencucian akar.

Presiden bersama Ibu Ani Yudhoyono, dan rombongan ikut panen perdana padi Super Toy HL-2 di Desa Grabag pada April lalu. Turut hadir Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Menteri Komunikasi dan Informasi M. Nuh, dan Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz.

Menurut situs Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian, padi Super Toy HL-2 ini memiliki keunggulan yaitu dapat dipanen tiga kali setahun tanpa perlu menanam ulang bibit. Batang padi sisa panen cukup ditebas dan disisakan batangnya dengan panjang kurang lebih 3 centimeter dari permukaan tanah.

Batang sisa tebasan dari panen akan tumbuh kembali dan siap dipanen 96 hari kemudian. Batang padi yang sudah di panen dua kali itu ditebas kembali dan akan tumbuh serta siap panen setelah tanaman berumur 90 hari.

Panen perdana padi galur baru itu dilaksanakan di areal sawah seluas 103 hektare. Hasil panen dari galur ini mencapai 10 ton beras per hektare. Dapat dikatakan hasil panen padi Super Toy ini dua kali lipat dibanding padi IR 64 yang biasa ditanam oleh petani.

Selama ini hasil panen yang diterima petani padi IR 64 rata-rata 6–7 ton per hektar gabah atau setara 4-5 ton beras. Melihat dari hasil produksi yang cukup tinggi tersebut, Presiden menyatakan bahwa penemuan inovasi teknologi baru ini perlu didukung sepenuhnya oleh pemerintah sebagai upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.

Terdapat beberapa syarat yang diperlukan agar hasil tanaman optimal, di antaranya penggunaan benih berkualitas, cukup sinar matahari, tingkat keasaman tanah (pH) ideal 6 – 7, tercukupinya kebutuhan air, pengendalian hama penyakit, pemupukan berimbang, dan keuletan petani.

Super Toy HL-2 tidak bisa ditanam di lahan sawah lebak, sawah gambut, dan sawah tadah hujan tanpa didahului dengan penyesuaian teknologi pengolahan tanah. Sawah lebak misalnya untuk ditanam galur ini harus membutuhkan teknologi pengeringan dan perawatan tanah terlebih dahulu.

Harapannya ke depan, penemuan galur-galur baru dan pengembangan produksi pangan harus pula diikuti dengan upaya meningkatkan sosialisasi dan peran aktif penyuluh pertanian. Masalahnya, padi jenis ini terbukti tak bisa dipanen oleh petani di Grabag yang terlanjur menanamnya.

Menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Ali Muso, padi Super Toy yang diklaim sebagai padi varietas unggul belum resmi dilepas ke masyarakat. "Varietas itu belum bisa ditanam secara massal," ujarnya. Meski telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, padi itu hanya lulus pada aspek teknologi. "Menurut mereka (PT Sarana Harapan Indopangan) padi ini berpotensi (unggul)," katanya.

Elik S, Akbar Tri Kurniawan

Komentar (6)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
saya petani asal sumba pengen juga budiya super toy. tapi belum mengerti apakah sesuai dengan syarat tumbuh daerah sini atau tidak? mohoh untuk di berikan penyuluhan kepada kami petani yang bodoh ini,,. jangan marah sebelummya karena soal saya liha ini cuman pramosi doang tapi perintah tidak pernah memberikan penyulukhan pada kami. terima kasih
0
0
Pasca gonjang-ganjing bayu geni, kini muncul beras supertoy. Kalau saya pikir-pikir bangsa ini terobsesi dengan sesuatu yang serba instant, mudah, ringan, tanpa kerja keras, namun ingin mendapatkah hasil yang besar. Mirip kisah Joko Tarub Nawangwulan. Pernah dengar kisahnya ? Makanya nasehat orang tua dulu perlu digondheli: ojo gumunan, ojo kagetan ? Salam.
0
0
menurut saya pemerintah tidak dapat disalahkan 100% karena sudah disebutkan persyaratan penanaman padi tsb,,,seharusnya petani lebih jeli dalam perawatan juga,,,bibit unggul juga akan menjadi tidak unggul kalau tidak dirawat dan dijaga dengan baik,,,,saran saya sosialisasi kpd petani harus lebih di tingkatkan lagi tanpa ada yg ditutup2i...petani tidak sepintar yang kita tahu,,jadi sosialisasi sangat di butuhkan agar mereka tidak salah kaprah long live INDONESIA bravo INDONESIAN YOUTH merdeka... Wassalam
0
0
seharusnya padi super toy di iklankan di Televisi dan di sebarkan ke seluruh pelosok desa,memang semua padi bisa tumbuh kembali tapitidak sebagus penanaman yg pertama.
0
0
Blue Energy,Padi Supertoy...cukup sudah.semoga proyek anak negeri yg akan datang lebih baik lagi,teruji & terbukti...Amiin
Selanjutnya
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X