foto

Ilustrasi sakit tulang. (Tempo/Imam Sukamto)



Vesselplasty untuk Memulihkan Patah Tulang  

TEMPO Interaktif, Jakarta: Lelaki berusia 60 tahunan itu tak bisa menahan nyeri di bagian belakang tubuhnya. Ia langsung berprasangka bahwa tubuhnya tak bakal bisa tegak lagi. Namun, patah tulang karena osteoporosis yang diderita pria itu ternyata bisa diusir setelah ia menjalani operasi dengan metode vesselplasty. Metode ini tak hanya mempan untuk patah karena osteoporosis, tapi juga yang disebabkan oleh trauma.

Dr Bambang Darwono, SpB, SpOT, menyatakan metode tersebut memang bisa menangani jenis patah tulang stabil atau yang tidak menekan saraf. Dalam teknik ini, ia menyebutkan tindakan pembedahan tanpa pisau dengan bius lokal ini menggunakan zat semacam semen yang bisa mengeras dengan cepat ke dalam rongga pada bagian tulang yang patah.

Selama ini banyak cara yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan pada tulang belakang, di antaranya dengan cara memasang gips atau implan (pen). Padahal, sebenarnya, menurut dokter ahli bedah ortopedi dari Rumah Sakit Gading Pluit Jakarta itu, tulang yang patah bisa sembuh secara alami. Hanya membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 3 bulan. "Tapi bila tidak ditangani dengan baik, akan berdampak pada bentuk susunan tulang pascarehabilitasi, di antaranya bisa miring dan lebih pendek. Kecenderungan seperti itu biasanya bisa berakibat pada tulang si penderita menjadi bungkuk," ujar Bambang di Jakarta beberapa waktu lalu.

Koreksi patah tulang belakang dengan menggunakan implan pada beberapa kasus membuat penderitanya harus menjalani serangkaian pembedahan agar pemasangan implan lebih sempurna. Hal ini dilakukan agar posisi tulang pascarehabilitasi mencapai hasil optimal. Tapi metode ini tidak bisa diterapkan kepada pasien yang berusia lanjut. Karena pemasangan implan dari logam ini bisa menimbulkan retak tambahan pada tulang di sekitar organ yang dikoreksi. Sedangkan pemasangan gips membuat badan tidak nyaman karena harus dipakai selama 3 bulan, itu pun hasil koreksinya tidak bisa 100 persen.

Menurut Bambang, salah satu cara pengobatan patah tulang belakang jenis kompresi adalah dengan menciptakan ruangan di dalam ruas tulang belakang dan memasukkan bahan pengisi tulang atau bone filler material (BFM), sehingga ruas tulang belakang yang mengalami patah tulang kembali normal seperti sebelumnya. "Namun, risiko dari cara ini adanya kebocoran dari bahan pengisi tulang tadi," ujarnya.

Nah, teknik vesselplasty ini masih tergolong konsep baru untuk mengatasi patah tulang belakang. Meski ditemukan pertama kali di Prancis pada 1984, teknik ini dikembangkan dan disempurnakan di Amerika Serikat pada 1995. Tindakan minimal invasif ini dilakukan dengan cara menyuntik tulang patah dengan menggunakan jarum khusus dengan pembiusan lokal.

Melalui jarum, dimasukkan semacam balon yang terbuat dari polietilen dengan pori-pori sebesar 80 mikron ke dalam ruas tulang belakang yang patah. Selanjutnya, ke dalam balon disuntikkan semen tulang khusus dengan tekanan yang bisa diatur. Sebagian semen keluar lewat pori-pori mengisi jaringan sekitar atau ruang kosong pada ruas tulang yang patah. Efek ini bisa mendongkrak tulang belakang ke bentuk semula. Selanjutnya, jarum ditarik dan balon tinggal di tulang belakang. Semen tulang menjadi keras dalam waktu 20-30 menit. Dengan kepadatan gradual, di dalam balon semen makin padat, konstruksi ini relatif lentur sehingga aman bagi tulang di sekitarnya, terutama bagi penderita osteoporosis.

"Dengan teknik ini, sehari sesudah melakukan tindakan, pasien sudah dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti duduk dan berdiri, kecuali membungkuk dan mengangkat beban, selama 3 bulan," ujar Bambang di Jakarta beberapa waktu lalu.

Semen terdiri atas polimetilnetatrilat (PMNA) dicampur kalsium fosfat atau kalsium sulfat. Dua zat terakhir bisa diserap tubuh dan digantikan dengan kalsium tubuh sehingga konstruksi itu semakin mirip tulang asli. Balon maupun PMNA juga mudah menyesuaikan dengan kondisi tubuh sehingga tidak menimbulkan alergi. Di sini, metode ini sudah dijalankan sejak 3 tahun lalu. Pemantauan dari 103 kasus memperlihatkan hasil yang memuaskan. "Tapi teknik ini digunakan untuk patah tulang yang relatif baru. Jika tulang sudah menyambung atau sembuh alami, harus dioperasi dulu guna memberi ruang untuk semen tadi," ucapnya.

Marlina