Pandangan Pertama Chrome
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sederhana. Inilah kata paling tepat untuk menggambarkan tampilan browser perdana Google, yakni Chrome, pada pandangan pertama. Tepat Senin pekan lalu, Google meluncurkan browser versi beta itu dan sudah bisa diunduh secara gratis.
Menariknya, baru sepekan umurnya, ia sudah bisa merebut hati banyak orang. Sebuah riset yang diadakan StatCounter Blog menemukan bahwa Chrome sudah merebut satu persen pasar browser global.
"Ini performa yang fenomenal," ujar Aodhan Cullen dari StatCounter.
Tapi sepintas, tampilan Chrome justru tak fenomenal. Ini bila dibandingkan dengan browser lain yang kaya akan bar. Menu bar-nya hanya terdiri atas tab dan tombol untuk kembali, memperbarui, dan bookmark.
Ia bisa diunduh langsung dari situs Google. Berbeda dengan browser lain, yang untuk menginstalasinya, pengguna harus selalu terhubung dengan Internet.
Pada halaman awal, tersedia kolom pencarian Google dan daftar sembilan halaman situs web yang sering dikunjungi. Ini akan memudahkan pengguna berselancar di situs-situs favorit.
Chrome dibangun dengan mesin rendering WebKit sebagaimana browser Safari dari Apple. WebKit adalah kerangka kerja yang membuat programmer bisa mendesain browser yang dapat bekerja sama baiknya di komputer pribadi dan perangkat bergerak.
Selain itu, Google menanamkan V8. Bukan, ini bukan mesin mobil, melainkan "mesin" yang mengakselerasi aplikasi JavaScript dan web. Selama ini browser yang dipakai pada perangkat bergerak sering kali gagal mendukung bahasa program tersebut.
Bila pengguna mengklik link JavaScript pada ponsel, kadang-kadang browser akan mengalami crash. Di kali lain, browser malah tak merespons apa pun. Namun, Google mengklaim, Chrome tak akan mengalami hal itu. Ini memang harus diuji karena Chrome baru tersedia untuk versi komputer pribadi.
Fitur lain Chrome adalah anti-phising alias situs palsu yang bertujuan mencuri identitas pengguna atau pengunjung. Fitur ini dibangun berdasarkan kode open source yang sama dengan Mozilla Firefox.
Fitur unggulannya adalah pengisolasi content tab. Fitur ini akan menganalisis halaman situs di tab baru dan memeriksa apakah ada kandungan berbahaya yang mungkin akan mengganggu browser, bahkan sistem. Fitur ini sesungguhnya sudah ada di browser terbaru Microsoft, Internet Explorer 8, dan TraceMonkey pada Firefox.
Kembali ke masalah antarmuka, selain tampilannya sederhana, pengguna bisa mengkustomisasi tampilan. Tab memang ditampilkan pada urutan teratas. Namun, pengguna bisa memindahkannya ke sisi lain, bahkan ke jendela baru.
Namun, salah satu persoalannya muncul saat tiba masanya menutup. Browser lain biasanya menanyakan apakah betul-betul menutup semua tab. Namun, pada Chrome, begitu tombol "X" ditekan, semua tab akan otomatis ditutup.
Model bookmark-nya pun terasa "jadul". Sebagaimana Firefox, sebuah tanda bintang akan menambahkan situs ke bookmark. Namun, tak ada pilihan menyimpan situs di bookmark atau di folder, sebagaimana pada browser lain.
Selain itu, memori yang disedotnya lumayan besar, meski tak sebesar Internet Explorer. Sementara yang terakhir menyedot 189 megabita (MB), Chrome menyita 172,5 MB. Namun, Firefox masih jauh lebih irit dengan 87 MB saja.
DEDDY SINAGA | TRUSTEDREVIEW | COMPUTERWORLD |PCMAG | INFORMATIONWEEK | GOOGLE
BOOKMARK
Tab: sebutan sederhana untuk tabbed document interface (TDI), yakni sistem antarmuka yang mengizinkan banyak dokumen atau halaman web pada browser dibuka atau diaktifkan di satu jendela.













