Sungai Porong Buntu, Lapindo Bingung Buang Lumpur
TEMPO Interaktif, Sidoarjo :Penggelontoran lumpur yang dilakukan Lapindo membuat sungai Porong saat ini tidak bisa lagi mengalirkan air ke selat Madura. Dari pantauan Tempo, Kamis (11/9), aliran air sungai itu praktis berhenti setelah seluruh badan sungai selebar 90 meter seluruhnya tertimbun lumpur. Timbunan lumpur meninggi dan hampir setara bibir tanggul yang setinggi tujuh meter dari dasar sungai.
Sejak ditetapkannya Sungai Porong sebagai satu-satunya saluran untuk pembuangan lumpur ke pesisir Sidoarjo, Lapindo membuat dua saluran khusus pembuangan lumpur masing-masing di desa Kedungcangkring dan di desa Keboguyang. Posisi penggelontoran di desa Kedungcangkring berada di bagian barat, sedangkan di sisi timurnya atau berjarak sekitar 500 meter adalah penggelontoran di desa Keboguyang.
Penggelontoran lumpur yang tak henti-hentinya, telah membuat tumpukan lumpur kering yang saat ini memadati seluruh badan sungai mulai dari titik penggelontoran Kedungcangkring hingga ke titik Keboguyang. Sedangkan untuk pembuangan lumpur di titik Keboguyang yang lebih banyak ketimbang di titik Kedungcangkring. Akibatnya, lumpur memenuhi seluruh badan sungai setinggi tanggul dan memanjang hingga sekitar satu kilometer.
Aliran sungai dari arah barat yang menuju ke laut pun terhenti dan hampir memenuhi tanggul. Jika hal ini dibiarkan tak mustahil kawasan Sidoarjo dan sekitarnya akan terkena banjir. Apalagi air laut pasang, aliran air dari arah timur atau dari laut akan memenuhi tanggul sungai. "Kami selalu takut banjir, apalagi air yang ada didalam sungai adalah air dari limpahan air pasang dari laut," kata Mujianto, warga Keboguyang.
Menurut Mujianto, tertutupnya sungai Porong sebenarnya sudah terjadi sejak April lalu. Hanya saja, Badan Pengelola Lumpur Sidoarjo (BPLS) selalu berupaya untuk memberikan lubang atau cekungan di samping genangan lumpur sehingga aliran air di sungai porong tetap bisa mengalir. Namun, musim kemarau membuat tersebut tak sanggup mendorong lumpur ke laut, akibatnya lumpur menumpuk dan memenuhi sungai.
Humas BPLS Ahmad Zulkarnain menyalahkan Lapindo atas kejadian ini. Menurutnya, sesuai dengan kesepakatan, Lapindo sebagai penanggung jawab penggelontoran lumpur, seharusnya hanya membuang lumpur ketika musim hujan. Kenyataanya, di saat musim hujan penggelontoran lumpur malah tidak dilakukan.
"Lapindo beberapa kali kami beritahu, tapi hingga kini tetap gelontorkan lumpur di musim kemarau," kata Zulkarnain. Padahal saat kemarau seperti ini debit sungai porong hanya 0,4 meter per detik sehingga tidak mampu untuk mendorong lumpur hingga ke laut pesisir Madura. Sementara, Air sungai porong baru mampu mendorong lumpur jika memiliki debit 2,5 meter per detik yang berarti hanya terjadi ketika musim penghujan.
Meski begitu, BPLS berjanji akan berusaha mencairkan lumpur kering di Sungai Porong. Dengan bantuan enam eksavator, BPLS setidaknya secara terus menerus berusaha untuk mencairkan lumpur dan meminggirkan lumpur sehingga aliran air sungai porong bisa mengalir lancar hingga ke pesisir Sidoarjo yang berjarak sekitar 14 kilometer dari titik genangan lumpur.
Menanggapi tudingan ini, Juru bicara Lapindo Yuniwati Teriana membantah pihaknya sengaja membuat buntu sungai Porong. "Kita terus membuang di musim kemarau karena saat ini tidak ada cara lain, jika tidak dialirkan maka tanggul penahan lumpur akan penuh dan tidak sanggup menahan lumpur," kata Yuniwati.
Padahal, jika tidak segera dialirkan ke Sungai Porong, lumpur yang saat ini sudah memenuhi seluruh tanggul yang ada dipastikan akan segera menjebol tanggul yang konsekwensinya malah akan menambah luasan baru wilayah terdampak lumpur. Yuniwati juga menegaskan, sewaktu musim hujan pihaknya memang sengaja tidak membuang lumpur mengingat tingginya debit hujan. "Kalau dipaksa dibuang jelas kapasitas pembuangan (sungai porong) tidak akan seimbang dan pasti banjir," pungkas Yuniwati.
Dari data yang ada di BPLS, sembilan kolam yang ada setidaknya memang telah penuh semuanya, padahal disatu sisi kondisi sungai porong juga sudah penuh.
Kolam yang penuh adalah Kolam utama atau kolam cincin seluas 115,7 hektar, kolam Renokenongo berkapasitas 80,38 hektar, kolam Jatirejo 21,63 hektar, kolam Mindi 52,14 hektar, kolam kedungbendo I seluas 114,8 hektar, kedungbendo II seluas 80,08 hektar, Siring 22,43 hektar, Ketapang 6,9 hektar, serta kolam baru glagah arum seluas 35,06 hektar.
BPLS sebenarnya telah mulai membangun kolam cadangan di Renokenongo. Namun, kolam seluas 80 hektar itu hingga kini belum selesai dibangun karena terkendala ganti rugi yang belum selesai.
Rohman Taufiq



