Pemerintah Siap Suntik Merpati Rp 300 Miliar

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah siap menyuntikkan Rp 300 miliar untuk merestrukturisasi PT Merpati Nusantara. Suntikan dana itu diberikan untuk mengurangi jumlah personel perusahaan penerbangan milik negara itu.

Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) M. Syahrial mengatakan, masalah terbesar Merpati adalah dana operasional yang terlalu gemuk akibat kelebihan sumber daya manusia. "Dana Rp 300 miliar itu menjadi suntikan terakhir pemerintah kepada Merpati. Jadi, perusahaan tersebut terancam ditutup jika masih gagal melakukan restrukturisasi dan memperbaiki kinerja," kata Syahrial di gedung Sampoerna Strategic Square Jakarta, Kamis (11/9) malam. 

Dia menjelaskan bahwa PPA dan Bank Mandiri juga sudah sepakat membantu restrukturisasi Merpati karena jumlah hutang yang masih besar. Sampai pertengahan 2007, Merpati dilaporkan memiliki utang Rp 1,8 triliun yang sedang dalam proses negosiasi dengan para kreditornya, sementara total aset BUMN penerbangan itu tidak sampai Rp 1 triliun. 

Merpati pada 2007 telah mendapat dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 450 miliar yang digunakan untuk revitalisasi armada Rp 150 miliar, restrukturisasi utang Rp 180 miliar, dan biaya SDM Rp 120 miliar. 

"Jadi sekarang tergantung manajemen Merpati. Bagaimana rencana bisnis mereka lima tahun ke depan dan tentunya rencana bisnis tersebut harus dikonsultasikan dengan kita," ujarnya. 

Syahrial memperkirakan rencana bisnis tersebut akan selesai dipersiapkan dalam satu atau dua bulan ke depan, kemudian dipresentasikan kepada para pemegang saham, yaitu Menteri Keuangan, Meneg BUMN, dan DPR. 

Menurut Syahrial, Merpati juga harus melakukan efisiensi untuk menekan pengeluaran, terutama jika ingin melepas saham perdana (IPO) pada tiga atau empat tahun mendatang. 

Dia meminta Merpati untuk mengembangkan sistem teknologi informasi sehingga bisa menerapkan sistem "ticket online", dilanjutkan dengan sistem logistik, dan meningkatkan kerjasama dengan agen perjalanan. 

Berdasarkan kajian sementara, lanjut dia, Merpati masih memiliki sektor bisnis yang menguntungkan pada pesawat dengan baling-baling (propeller) yang melayani penerbangan perintis ke daerah-daerah terpencil dan sulit dijangkau dengan alat transportasi lainnya. 

Eko Nopiansyah