Topik
Rabu, 17 September 2008 | 21:17 WIB
Psikolog: Masyarakat Cenderung Berkepribadian Ganda
TEMPO Interaktif, Jakarta: Psikolog Universitas Indonesia Hamid Muluk mengungkapkan, ada kecenderungan perubahan kepribadian masyarakat Indonesia jika berada di ruang publlik. "Semua keburukannya bisa muncul," ujarnya dalam diskusi Perekonomian Nasional dan Fakta Meningkatnya Penderita Gangguan Jiwa di Hotel Bumikarsa, Jakarta, Rabu (17/9).
Menurut Hamid, masyarakat dipaksa bermuka dua ketika berada di wilayah publik karena menyesuaikan atau bertahan terhadap sistem yang ada. Akibatnya, keseimbangan jiwanya terganggu. Ia mencontohkan provokator dalam kerusuhan massa yang ternyata dikenal baik dan santun dalam keluarga. Begitu pula para koruptor yang ternyata melakukan haji dan umroh berulang kali. "Hanya dalam keluarga, seorang bisa bebas mengekspresikan dirinya tanpa takut penilaian," kata dia.
Psikater dari Jejak Jiwa Indonesia Pandu Setiawan melihat bangsa Indonesia mempunyai mekanisme pertahanan menyangkal yang kuat. Cirinya adalah tidak mau mengakui masalah yang ada dan menghindari kenyataan. "Ini merupakan indikasi gangguan jiwa," kata dia. Jalan keluarnya adalah membuat kebijakan yang mendukung keterlibatan publik. Masyarakat, lanjut Pandu, harus merasa dihargai baik dalam lingkup keluarga maupun di tingkat publik.
Dianing Sari
Menurut Hamid, masyarakat dipaksa bermuka dua ketika berada di wilayah publik karena menyesuaikan atau bertahan terhadap sistem yang ada. Akibatnya, keseimbangan jiwanya terganggu. Ia mencontohkan provokator dalam kerusuhan massa yang ternyata dikenal baik dan santun dalam keluarga. Begitu pula para koruptor yang ternyata melakukan haji dan umroh berulang kali. "Hanya dalam keluarga, seorang bisa bebas mengekspresikan dirinya tanpa takut penilaian," kata dia.
Psikater dari Jejak Jiwa Indonesia Pandu Setiawan melihat bangsa Indonesia mempunyai mekanisme pertahanan menyangkal yang kuat. Cirinya adalah tidak mau mengakui masalah yang ada dan menghindari kenyataan. "Ini merupakan indikasi gangguan jiwa," kata dia. Jalan keluarnya adalah membuat kebijakan yang mendukung keterlibatan publik. Masyarakat, lanjut Pandu, harus merasa dihargai baik dalam lingkup keluarga maupun di tingkat publik.
Dianing Sari