Dua Kubu PKB di Kota Kediri Islah
Topik
TEMPO Interaktif, Kediri: Konflik yang berkepanjangan di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan segera diakhiri dua kubu Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kota Kediri.
Kedua PKB, baik kubu Gus Dur maupun kubu Muhaimin Iskandar, menyatakan siap melakukan islah (rekonsiliasi) agar simpatisan dan anggota PKB tidak kebingungan menentukan sikap.
"Islah kami tempuh agar semua kembali menyatu, termasuk soal pengajuan calon anggota legislatif," kata Zen Fanani, Ketua DPC PKB Kota Kediri kubu Gus Dur, Rabu (17/9), usai rapat di markas PKB Gus Dur di Jalan Imam Bonjol, Kota Kediri.
Untuk menghindari konflik, pengajuan calon legislator akan dilakukan dengan sistem pemerataan. Teknisnya, semua kandidat dari kedua kubu memasang nama calon secara merata dan adil. Nomor urut dilakukan secara bergantian. Misalnya, nomor urut 1 dari PKB kubu Gus Dur, maka nomor urut 2 dari PKB kubu Muaimin Iskandar, atau sebaliknya.
"Tapi islah ini bisa saja berubah setelah ada vonis gugatan Gus Dur di Pengadilan Tata Usaha Negara," kata Zen sembari mengatakan segera melaporkan kesepakatan islah ke Dewan Pimpinan Pusat PKB di Jakarta dan Dewan Pimpinan Wilayah PKB di Surabaya.
Di sisi lain, DPC PKB kubu Muhaimin Iskandar mengakui adanya rencana kesepakatan islah itu. Selain pertimbangan pencalegan, islah dimaksudkan menjaga keutuhan anggota PKB.
Ketua DPC PKB Kota Kediri Arifin Asror yang juga mencalonkan diri sebagai calon wakil wali kota Kediri belum bisa dikontak. Menurut para pendukungnya, Arifin sibuk mempersiapkan kemenangannya sebagai kandidat mendampingi calon wali kota Iwan Budianto.
"Tapi prinsipnya proses islah sudah berjalan dan kami sudah mendapat lampu hijau dari Imam Nachrowi (Ketua DPW PKB kubu Muhaimin)," kata Syamsul Umam, salah seorang calon anggota legislatif DPC PKB Kota Kediri kubu Muhaimin Iskandar.
Menurut Umam, selain sudah mendapat persetujuan DPW, pihak DPP juga sudah mengetahui recana islah dua kubu PKB di Kota Kediri. "Saya sendiri ikut melakukan konsultasi dengan Pak Imam Nachrowi," kata Umam.
Indikasi islah terlihat sejak pendukung Gus Dur menolak seruan Gus Dur mengepung dan menyerbu kantor Komisi Pemilihan Umum setempat. Zen Fanani dan pengikutnya merasa tidak ada alasan untuk menyerang atau mengepung kantor KPU. Alasannya, sejauh ini proses pendaftaran calon legislatif yang diajukan partainya tidak mendapat kendala dari KPU, meskipun ada dua kubu PKB.
Selain itu, kandidat wali kota yang sempat terpental karena ditolak KPU, kini sudah bisa mengikuti pilkada lagi dengan posisi sebagai wakil wali kota mendampingi kandidat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. "Tapi Gus Dur tetap panutan dan pemimpin kami," kata Zen Fanani.
Aksi masa pro-Gus Dur justru terjadi pada Jumat (5/9) malam lalu saat dilakukan pengundian nomor urut calon wali kota di Hotel Lotus Kediri. Puluhan orang yang mengatasnamakan pengikut PKB Gus Dur memaksa masuk ke ruangan pengundian. Namun mereka dicegah ratusan aparat keamanan karena tidak memiliki undangan resmi dari KPUD.
Karena tak bisa masuk ruang pengundian, mereka bergerombol di halaman hotel sambil meneriaki pengikut PKB Muhaimin Iskandar. Kekecewaan itu bermula dari diloloskannya Arifin Asror, Ketua DPC PKB Kota Kediri kubu Muhaimin Iskandar menjadi calon wakil wali kota.
Sementara M Zaini, yang diusung PKB Gus Dur tidak diloloskan. Untungnya Zaini kemudian diterima PDIP sebagai calon wakil wali kota karena calon yang direkomendasikan PDIP tidak lolos tes kesehatan.
Dwidjo U. Maksum


