Stress Memicu Sufisme Perkotaan Meningkat


Topik

TEMPO Interaktif, Bandung:Semakin beratnya persoalan hidup yang dihadapi warga menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya gelombang sufisme di perkotaan. ”Persoalan hidup berpotensi memicu masyarakt menjadi stress, depresi, dan alienasi,” ujar Direktur Utama Mizan, Hadiar Bagir dalam seminar di Universitas Islam Bandung, Rabu (17/9).

Selain itu, kata Haidar, semakin tingginya individualisme dan tingkat perceraian juga memicu gejala ini. ”Orang menjadi kehilangan orientasi tentang makna hidup,” ujar Haidar.

Akibatnya, kata Haidar, masyarakat mulai mencari alternatif untuk membuat hidup mereka menjadi lebih tenang. ”Sufisme atau tarekat menjadi jawaban terhadap ekses mental dan psikologis orang modern yang tinggak di perkotaan,” ujar Haidar.

Haidar sendiri tidak menyebutkan secara pasti berapa jumlah kelompok pengajian atau tasawuf yang menjamur di kota besar. Namun di antaranya tercatat ada Paramadina, Tazkiya, IIMaN, Padepokan Taha, Padepokan Esa, Pesantren Suryalaya, Ibn Arabi Society, dan Beshara.

Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia dan MUI Kota Bandung Irfan Safrudin menilai sufisme merupakan respon terhadap pemahaman dan penghayatan keagamaan.”Saya sendiri sangat apresiatif karena sufisme perkotaan ini dapat menjadi harapan baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, pimpinan Pusat Kajian Tasawuf Misykat Yayasan Muthahhari Miftah F Rakhmat mengatakan jemaah yang datang ke lembaga yang dipimpinnya punya karakter yang berbeda-beda. ”Ada yang instan, filosofis, dan dogmatis,” katanya.

Jemaah yang instan, kata Miftah, adalah jemaah yang ingin cepat memperoleh ketenangan, ketentraman, berzikir, dan berdoa. ”Pengajian dijadikan sarana escape sementara mereka dari himpitan beban kehidupan,” katanya.

Adapun jemaah filosofis, kata Miftah, cenderung ingin memahami rahasia penciptaan, misteri kehidupan, dan tujuan dari seluruh keberadaan. ”Mereka senang dengan latar belakang teoritis tasawuf,” katanya.

Sedangkan jemaah dogmatis, kata Miftah, membutuhkan dalil kuat sebagai bukti. Bagi mereka, tasawuf tak berdasar karena tidak ditemukan nash-nya pada zaman awal Islam. ”Uniknya, mereka tetap datang ke pengajian tasawuf,” ujar putra cendekiawan muslim Jalaluddin Rakhmat ini.

Miftah mengakui, banyak dari jemaat Misykat, yang ingin datang ke tempatnya karena bisa bersama-sama menangisi problematika hidup. ”Terutama ibu-ibu. Kalau bapak-bapaknya mungkin gengsi,” katanya.

Rana Akbari Fitriawan

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X