Topik
Pabrik Garmen Dihantam Krisis Keuangan Global
TEMPO Interaktif, Purwakarta: Perusahaan garmen yang mengekspor hasil produksinya ke Amerika Serikat, mengaku merasakan langsung pahitnya dampak krisis keuangan global yang dipicu oleh terjadinya krisis ekonomi yang melanda Amerika saat ini.
"Kami telah merugi 2 juta $US, "kata Hoong He Jun, salah seorang petinggi manajemen perusahaan Pt.Eins Trend yang memiliki pabrik di Campaka, Purwakarta, Selasa (21/10).
Selama ini, perusahaan garmen asal Korea yang memperkerjakan sebanyak 6.535 karyawan tersebut, mengekspor 100 persen produk garmennya ke pasar Amerika Serikat, dengan menjalin kontrak dengan 10 pembeli. Tapi, sekarang, satu pembeli di antaranya memutus kontraknya akibat terjadinya krisis keuangan tersebut. "Ya kita jadi rugi," kata He Jun. Karena, barang yang sudah dipesan itu tak bisa dijual lagi ke bayer yang lain.
He Jun mengaku sedang was-was dengan kondisi pasar tujuan yang mulai lesu itu. Tapi, ia masih akan terus memantau perkembangan pasar Amerika sampai Juli 2009. Jika tetap tak ada perkembangan dan akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan perusahaan, pihaknya akan segera melakukan upaya pencarian tujuan ekspor baru.
"Sedang kami pikirkan," kata He Jun. Seperti diketahui untuk menyelamatkan industri garmen dalam negeri, pemerintah kini sedang mengincar pasar di luar Amerika, misalnya Brasil. He Jun mengakui Brasil salah satu pilihan baru tujuan ekspor perusahaannya.
Soekoyo, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purwakarta, mengatakan, tercatat 15 perusahaan garmen yang ada di Purwakarta yang orientasi ekspornya 90 persen ke Amareka Serikat. Ia mengaku belum menerima laporan ihwal perusahaan-perusahaan yang sudah terimbas dampak krisis keuangan global yang terjadi saat ini. "Masih sedang menginventarisirnya," kata Soekoyo.
Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta yang melakukan kunjungan mendadak ke PT.Eins Trend, pabrik garmen terbesar di Purwakarta, meminta agar pengusaha garmen melihat potensi pasar dalam negeri yang dinilainya masih cukup besar dan menguntungkan untuk digarap. "Tinggal ada keberanian dari para pengusahanya saja," kata Dedi.
Ia juga meminta agar kondisi pasar ekspor khususnya Amerika yang sedang goyang dicermati bersama oleh para pengusaha garmen. "Jangan bertindak sendiri-sendiri," kata Dedi. Ia juga mengharapkan para pengusaha yang dilanda kerugian tidak cepat-cepat melakukan pemutusan hubungan kerja buat para karyawannya. "Bicarakan dulu bersama serikat pekerja dan pekerjanya," tutur Dedi.
Nanang Sutisna





