Sumatera Barat Sambut Gelar Pahlawan Nasional Natsir


TEMPO Interaktif, Padang: Pemerintah Sumatera Barat menyambut baik rencana pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Muhammad Natsir yang akan diberikan pada 10 November mendatang di Jakarta.

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi, Rabu (5/11), mengatakan dua tahun terakhir Pemerintah Sumatera Barat mulai intensif mengusulkan Muhammad Natsir menjadi pahawanan nasional. Tahun lalu semua kelengkapan syarat-syarat sudah diajukan di Departemen Sosial.

"Dua tahun terakhir perjuangan ini kita intensifkan dengan menggelar beberapa seminar di Sumatera Barat maupun di Jakarta dan Bandung dan dua tahun ini diintensifkan, ahli sejarah hadir, Menteri Sosial hadir. Tulisan dari seminar itu untuk kelengkapan syarat yang memuat alasan kenapa Muhammad Natsir harus jadi pahlawan," kata Gamawan.

Ia mengatakan, sejak awal reformasi banyak masyarakat Sumatera Barat yang menginginkan Muhammad Natsir menjadi menjadi pahlawan nasional karena jasa-jasanya yang sangat besar saat sebelum kemerdekaan hingga sesudah kemerdekaan.

"Kalau menurut saya gelar pahlawan itu sangat pantas. Pak Natsir itu terlalu besar jasanya dari sebelum kemerdekaan, setelah kemardekaan, bahkan beliau pernah menjadi perdana menteri. Orang yang kadang-kadang pahlawan lokal saja sudah menjadi pahlawan nasional," kata Gamawan.

Gamawan mengakui, setelah reformasi, baru ada keberanian orang Minang untuk meminta M. Natsir menjadi pahlawan nasional.

"Kalau dulu zaman Orde Baru semuanya ditekan, tidak ada yang berani membicarakan PDRI, PRRI atau meminta gelar pahlawan nasional dari sini, tetapi juga tidak pernah muncul alasan apakah keterlambatan pemberian gelar untuk Pak Natsir ini karena PRRI, itu kita tidak tahu. Tapi bagi saya PRRI itu bukan pemberontakan, malah tiga tuntutan PRRI itu diwujudkan dalam otonomi daerah seperti saat ini," kata Gamawan.

Muhammad Natsir lahir di sebuah rumah yang besar yang terletak di dekat Jembatan Berukir, Alahan Panjang, 17 Juli 1908. Ia merantau dan menetap di Bandung dan sempat menjadi perdana menteri pada pemerintahan Sukarno dalam masa singkat 1950-1951.

Saat terjadi pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) karena ketidakpuasan pada pemerintahan Sukarno, Natsir pulang ke kampung halamannya di Maninjau memimpin perjuangan PRRI.

Febrianti 

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X