Topik
Infografis
Hilangnya Bunga di Hutan Thoreau
TEMPO Interaktif, Concord: Dunia mengenal Henry David Thoreau sebagai seorang sastrawan dan filsuf Amerika yang menganjurkan pembangkangan sipil dan menentang perbudakan. Namun, bagi sejumlah peneliti di Boston University dan Harvard, Thoreau tak sekadar pecinta alam biasa, tapi juga seorang klimatologis atau ahli iklim.
Thoreau mungkin sama sekali tak menduga bahwa catatan yang ditinggalkannya kelak amat berguna bagi dunia ilmu pengetahuan. Kumpulan catatan tentang kapan dan di mana tumbuhan di Concord, Massachusetts, Amerika Serikat, itu mulai berbunga ternyata bisa digunakan sebagai landasan untuk melacak dampak perubahan iklim yang terjadi.
Kebetulan, pengamatan yang dikembangkan oleh Thoreau dilakukan sebelum revolusi industri mulai memompa gas rumah kaca ke atmosfer dan membuat bumi semakin panas. Pria yang meninggal pada 1862 itu mulai mencatat kondisi lingkungan di sekitarnya pada 1851.
Tak kurang dari 500 spesies tumbuhan bunga telah ditelitinya sampai 1858. "Dia tahu apa yang dilakukan dan mengerjakannya dengan sangat sistematis," kata Richard B. Primack, ahli biologi konservasi di Boston University.
Primack menggunakan catatan Thoreau itu untuk mengamati pola kelimpahan dan penurunan populasi tumbuhan di Concord, bahkan sampai New England, dan menggunakannya untuk menghubungkan pola tersebut dengan perubahan iklim. Kesimpulannya amat jelas, spesies tumbuhan Concord kini berbunga tujuh hari lebih cepat dibanding tumbuhan di masa Thoreau. Hasil studi itu dipublikasikan oleh Primack dan seorang mahasiswanya, Abraham J. Miller-Rushing, dalam jurnal Ecology tahun ini.
Bersama dengan Charles C. Davis (ahli biologi konservasi di Harvard) dan dua mahasiswa, mereka menemukan bukti bahwa 27 persen dari spesies tumbuhan yang didokumentasikan oleh Thoreau sudah raib dari Concord. Sedangkan 36 persen spesies lainnya masih ada dalam jumlah yang amat kecil sehingga diperkirakan tak dapat bertahan dalam waktu lama.
Temuan itu dilaporkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences terbaru. "Target pengamatan Thoreau adalah cabang khusus dalam pohon kehidupan," kata Davis. "Mereka adalah spesies paling karismatis di Amerika, yaitu bunga anggrek, mint, lili, iris, dan gentian."
"Dari 21 jenis anggrek yang diamati oleh Thoreau di Concord, kini hanya tersisa tujuh spesies," tutur Primack. Survei yang dilakukan Primack dan Miller-Rushing berlangsung pada 2004-2006.
Selain berpegang pada buku catatan yang dibuat oleh Thoreau, mereka juga memeriksa catatan Pennie Logemann, desainer lanskap yang melacak kapan tumbuhan berbunga sejak 1963 sampai 1993, sebagai panduan bagi pemerintah daerah setempat dalam pembuatan Taman Concord.
Para ilmuwan juga meminta informasi dari kelompok observasi burung, serangga, dan tumbuhan setempat, serta mencari catatan para pecinta alam amatir yang tersimpan di perpustakaan daerah. Salah satunya adalah catatan yang dibuat oleh Richard J. Eaton, seorang ahli botani terkenal yang pernah membuat buku "A Flora of Concord" pada 1974.
Primack dan timnya juga menggunakan hasil pengamatan Alfred Hosmer. Meskipun sulit dipahami, hasil penelitian Hosmer telah memberi kontribusi yang luar biasa bagi riset yang Primack kerjakan. Catatan lapangan Hosmer tentang tumbuhan di Concord pada 1888 hingga 1902 sangatlah mendetail.
"Catatan yang dibuatnya mirip dengan data barang dagangan yang dibuat oleh pemilik toko," kata Primack. "Nomenklatur (tata nama) tumbuhan yang dicatatnya lebih akurat dibanding Thoreau. Plus kami dapat membaca tulisannya."
Untuk membuat catatan botani itu, selama 15 tahun Hosmer mengisi waktu dengan berjalan mengelilingi Concord selama beberapa jam dalam sehari dan beberapa hari dalam seminggu. "Dia tak pernah menulis mengapa dia melakukannya," kata Primack. "Tapi dia mengenal Thoreau ketika dia masih bocah. Hosmer adalah satu di antara beberapa orang yang menyatakan Thoreau sebagai seorang jenius, bukan sinting."
Primack mengaku tak pernah mendengar nama Hosmer hingga akhirnya minat menelusuri catatan Thoreau menuntunnya mencari beragam jurnal, buku harian, dan catatan tua lainnya. Seorang kurator tumbuhan di New England Botanical Club, Ray Angelo, mengarahkannya ke catatan Hosmer.
Mendapat banyak masukan tak lantas membuat riset Primack dan timnya berjalan lancar. Justru mereka mengalami masalah besar yang berlipat ganda. "Tulisan tangan Thoreau amat berantakan. Itu adalah kesulitan besar bagi kami," kata Miller-Rushing. "Dalam beberapa kasus, Thoreau dan Hosmer menyebut spesies yang sama dengan nama berbeda. Kami harus menyelidikinya dulu."
Davis dan dua mahasiswanya, Charles G. Willis dan Brad Ruhfel, membantu Primack melihat setiap data spesies dari perspektif evolusionernya, misalnya hubungan antara kelimpahan dan karakteristik suatu spesies. "Spesies yang jumlahnya menghilang atau menurun ternyata memiliki hubungan yang lebih dekat dibanding yang diperkirakan," kata Willis.
Pendekatan baru itu ternyata amat membantu mereka dalam memahami perubahan yang tengah terjadi di Concord dan belahan bumi lainnya. Kini para dosen dan mahasiswa itu melacak lebih banyak data, karena semakin banyak bukti bahwa burung telah mengubah pola migrasi untuk menanggapi perubahan iklim. Perubahan itu ternyata amat buruk bagi kelangsungan hidup burung karena tak lagi sinkron dengan pola kehidupan spesies serangga yang mereka lahap.
Para ilmuwan itu mengatakan riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa betapa pentingnya pengamatan lanskap dan mencatat apa yang terjadi di dalamnya. Hal itu juga membuktikan bahwa catatan lama dan koleksi sejarah alam tidak bisa disepelekan. "Buku catatan Hosmer hanya tergeletak di Concord selama 100 tahun, sebelum ada yang menggunakannya," tutur Primack.
TJANDRA DEWI | NYTIMES | SCIENCEDAILY





