Jihad Tak Melulu Perang Fisik

TEMPO Interaktif, Surabaya:  Jihad dalam perspektif kekinian bukan lagi berarti berperang secara fisik dan memerangi atau mempertahankan diri dari idiologi kafir secara berdarah-darah. Demikian diungkapkan Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya, Abdul A’la saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Jihad dan Kepahlawanan yang digelar The wahid Institute di Surabaya, Minggu (9/11).

“Kekurang arifan menyikapi realitas dan kekurang dalaman memaknai arti menjadikan jihad mengalami reduksi makna sebatas perang dan sejenisnya,” kata A’la. Padahal jihad semacam ini selain berseberangan dengan nilai Islam juga dipastikan sangat tidak menguntungkan umat islam dan manusia secara keseluruhan.

Dalam al-Quran sendiri, tambahnya, dari 39 kata jihad dengan segala derivasinya, kurang dari sepuluh yang memiliki keterkaitan dengan perang. Selebihnya, kata tersebut merujuk pada segala aktivitas lahir dan batin serta upaya intens dalam rangka menghadirkan kehendak Allah di muka bumi ini. Tujuannya mengembangkan nilai moralitas luhur, dan mendasarkan pada keadilan, perdamaian serta kesejahteraan umat manusia.

“Bahkan dalam hadits Nabi, jihad adalah kesungguhan hati untuk membumikan nilai islam dalam kehidupan. Dalam hal ini, berinteraksi sesame manusia dengan jujur dan tulus yang tanpa menyakiti adalah bentuk dari jihad yang sesungguhnya,” tambahnya.

Ditempat yang sama Yenny Zanubba Wahid, menilai apa yang dilakukan Trio Bom Bali Amrozi cs adalah bentuk dari kesalahan dalam memaknai arti penting dari Jihad. “Padahal inti dari jihad adalah memerangi hawa nafsu, bukan mengikuti nafsu untuk memaksakan kehendak,” kata Yenny Wahid.

Karenanya, tambah Yenny, dari sisi hukum, orang seperti Amrozi cs memang layak untuk mendapatkan hukuman mati atas segala yang dia lakukan. “Hukum dinegeri ini masih mengenal hukum mati, karena dia terlibat maka harus menerima konsekwensinya,” putri Gus Dur ini menambahkan.

Lebih lanjut, Yenny berharap apa yang dilakukan Amrozi cs tidak lagi terjadi di Indonesia. Karenanya para tokoh maupun kiai yang sangat memahami arti dari inti ajaran jihad harusnya bisa membumikan makna jihad, sehingga tidak lagi dimaknai keliru oleh masyarakat luas.  Rohman Taufiq