Topik
Infografis
Tariyem, Mbokne Amrozi yang Tegar
TEMPO Interaktif, Lamongan: Raut wajah Tariyem tak bisa menyembunyikan kelelahan. Sorot matanya yang sayu menyimpan perasaan duka mendalam. Wanita 76 tahun ibu dari dua terpidana mati kasus bom Bali I, Muklas dan Amrozi berusaha untuk tegar.
Kecintaan dan rasa sayang kepada kedua anaknya itulah yang memberinya tenaga untuk tetap mengikuti detik-detik terakhir kehidupan Amrozi dan Muklas. “Sejak Sabtu hingga Minggu mbokne (sebutan ibu dalam bahasa Jawa) tidak tidur, hanya berdoa,” tutur Muhamad Chosim, anak paling tua Tariyem-Nurhasim (almarhum).
Cinta dan kasih sayang wanita renta itu kepada anak-anaknya memang begitu besar. Tariyen yang masih sering pergi ke sawah itu,kerap mondar-mandir Lamongan - Nusakambangan untuk menjenguk dan melepas kerinduan kepada Amrozi dan Muklas, sebelum ditembak mati oleh regu eksekusi.
Tariyem selalu membawakan makanan kesukaan mereka. “Mbokne selalu membawa makanan, kadang pepes peda, layur asin goreng, sambel terasi, dan sayur asem. Bila melihat mereka makan lahap, mbokne sangat senang,” Chosim mengisahkan.
Tariyem menyadari kedua anaknya telah menjadi perhatian banyak orang. Dan, selalu dipandang sinis oleh masyarakat karena perbuatan mereka, meledakkan bom Bali pada 2002. Tapi, ia tak pernah berkecil hati. Wanita ini berprinsip, soal salah dan benar biarlah Tuhan yang menentukan. Baginya Tuhan yang tak pernah tidur dan tahu segalanya.
Berpegangan pada keyakinan itulah ia selalu bersikap tegar. Begitu pun disaat kedua anak kandungnya itu harus meregang nyawa di hadapan regu tembak pada Minggu (9/11) dini hari. Ia tak meronta.
Ketegaran seperti itu juga ditunjukkan sewaktu Jabir, anak Tariyen yang lain, meninggal saat mendakii Gunung Lawu. Mbokne dari 13 anak ini mengikhlaskan kepergian Jabir untuk selamanya.
Di mata anak-anaknya, Tariyem adalah sosok wanita berkemauan keras dan menter (tegar) menghadapi cobaan. Menurut Ja''far Shodiq, anaknya yang lain lagi, ibunya sanggup bekerja keras di sawah dari pagi hari hingga menjelang magrib demi anak-anaknya bisa bersekolah.
Tak jarang Tariyem harus berjalan kaki cukup jauh mengantar anak-anaknya yang masih kecil berangkat sekolah. Perhatian dan kecintaan kepada anak-anaknya itu terbawa hingga mereka dewasa. Ketika anak-anaknya sudah berkeluarga dan bertempat tinggal jauh, Tariyem menyempatkan untuk mengunjungi mereka.
Tak ada rasa lelah. “Rasa lelah hilang kalau sudah bertemu anak-anak dan cucunya,” kata Ja''far. Tariyem juga tak pernah "menggugat" ketika kedua anaknya, Amrozi dan Muklas, akan dieksekusi mati. Ia hanya berharap dan berdoa selalu bisa mengunjungi mereka, kapan saja di mana saja.
Pertemuan terakhir Tariyem dengan Muklas dan Amrozi terjadi pada Jumat, 17 Oktober lalu. Bersama semua anak dan cucu, Tariyem berada di tengah-tengah mereka. Mengambil tempat di sebuah ruang di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakabangan, Tariyem selama empat jam mendengarkan pesan-pesan kedua anaknya.
Tak terasa, kata Ja''far, butir air mata ibunya meleleh. “Ibu terharu dan bangga melihat anak-anaknya berkumpul walau di tempat dan waktu yang serba terbatas,” kata Ja''far.
Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran wanita ini. Sejak sore hingga menjelang subuh pada Sabtu dan Minggu lalu, Tariyem tak sanggup memejamkan mata. Sebelum jenazah Amrozi dan Muklas dikuburkan, ia menyempatkan memandang jasad kedua anaknya itu.
Sujatmiko






Web via