Topik
Kenaikan Cukai Rokok Sensitif Terhadap Perokok Miskin
TEMPO Interaktif, Jakarta: Peneliti Lembaga Demografi Universitas Indonesia Abdillah Hasan menguraikan bahwa kenaikan cukai rokok akan berpengaruh langsung terhadap perokok miskin.
"Naiknya cukai sensitif terhadap kenaikan harga rokok, jadi biaya untuk beli rokok akan naik signifikan," paparnya dalam diskusi antirokok di Jakarta Rabu (12/11)
Perokok miskin dalam hasil surveinya tahun 2005 mengeluarkan biaya Rp 113 ribu/bulan yang jauh lebih besar daripada Bantuan Langsung Tunai sebesar Rp 100.000/bulan. "Mereka (perokok miskin) mengeluarkan biaya 12,43 persen dari pendapatannya untuk beli rokok," jelasnya. Pengeluaran ini 15 kali lebih besar dari beli daging, 8 kali lebih banyak dari biaya pendidikan dan 6 kali lebih mahal untuk biaya kesehatan. Artinya pengeluaran rokok, Ahsan melanjutkan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas hidup sumber daya manusia.
"Kebijakan pengendalian rokok bertujuan untuk mengurangi kemiskinan," tegas Ahsan. Diantara kaum papa tersebut, pengeluaran rokok berada di nomor dua setelah beras. Kondisi ini mengkhawatirkan karena perokok miskin seolah-olah menyetor uangnya ke industri rokok.
Pendapatan dari cukai rokok yang diterima pemerintah pun relatif turun. Menurut Ahsan meski naik dari Rp 3 trilyun (1994) menjadi 41 trilyun (2007), tapi presentase kontribusinya relatif turun. Pada tahun 2004 saja kontribusinya hanya 8 persen dan meluncur menjadi 5 persen di 2007.
Naiknya cukai rokok 10 persen, Ahsan menjelaskan akan menurunkan konsumsi rokok 2 persen dalam jangka waktu yang lama. Waktu transisi tersebut, tambahnya bisa digunakan untuk membantu pihak yang terkena dampak seperti petani tembakau dan pekerja industri rokok. Cukai naik 100 persen saja hanya 6 sektor yang terpengaruh dari 66 sektor Industri yang bisa mengambil untung dari kenaikan tersebut. "Nettonya positif kalau cukai rokok naik 100 persen," jelasnya.
Dianing Sari
Web via