Pengambilalihan Bank Century Dinilai Tepat

TEMPO Interaktif, Jakarta :Ketua Persatuan Bank-bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menilai langkah pemerintah mengambil alih Bank Century melalui Lembaga Penjaminan Simpanan sudah tepat.

"Pengambilalihan itu membuat masyarakat merasa aman," ujarnya saat dihubungi, di Jakarta, Jumat (21/11) malam. Menurut dia, tindakan pemerintah yang cepat itu, diharapkan bisa mencegah dampak buruk yang bersifat sistemik.

Sigit mencontohkan krisis finansial global. Krisis tersebut, katanya, tidak hanya menyebabkan bank dilanda kesulitan likuiditas, tapi juga rasa tidak percaya satu sama lain. "Akibatnya bank yang tidak dipercaya sulit mendapatkan dana pinjaman dari bank lain," kata dia.

Bagaimanapun, Sigit memandang masalah Bank Century hanya sebagai kasus. "Bukan berarti bank-bank menengah dan kecil lainnya juga berpotensi mengalami masalah likuiditas," tuturnya.

Ia berpendapat bank akan kesulitan jika terlalu tergantung pada satu atau dua deposan besar. Begitu krisis terjadi, si deposan panik dan menarik dananya, bank tersebut akan susah mencari dana penggantinya. "Berbeda jika struktur dana bank sehat, menyebar dan tidak tergantung pada satu deposan besar," paparnya.

Sayangnya, ia tidak bisa menyebutkan bank mana saja yang struktur dananya bagus dan mana yang buruk. "Saya tidak punya datanya. Tapi nasabah bank menengah dan kecil seharusnya tidak usah panik, karena dana mereka hingga Rp 2 miliar kan dijamin pemerintah," kata dia.

Sigit menambahkan, krisis finansial ini tak ubahnya seleksi alam bagi perbankan. Dia menggarisbawahi, sejatinya, hingga September lalu kondisi perbankan Indonesia cukup bagus. "Rasio kredit bermasalah di bawah lima persen," ujarnya.

Sementara rasio kecukupan modal 17,26 persen, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio) 77,7 persen, dana pihak ketiga Rp 1.603 triliun, dan kredit yang disalurkan Rp 1.246 triliun. "Jadi harusnya perbankan kita bisa bertahan," tandasnya.


Bunga Manggiasih