Topik
Infografis
Guru dan Orangtua Keberatan Jam Sekolah Dimajukan
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sejumlah guru dan orangtua murid keberatan jika jam masuk sekolah dimajukan menjadi pukul 06.30 WIB. Kepala Sekolah Dasar 03 Cipinang, Jakarta Timur Edi Susanto, mengatakan kurang setuju dengan kebijakan tersebut. "Masih terlalu pagi," katanya.
Kemarin, Pemerintah Provinsi Jakarta berencana memajukan waktu masuk sekolah 30 menit menjadi pukul 06.30 untuk mengurangi tingkat kemacetan dari semula pukul 07.00. "Diharapkan mulai 1 Januari 2009 dan berlaku bagi seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto di Balai Kota seusai rapat pemimpin pemerintah Jakarta kemarin.
Selain memajukan jam sekolah, pemerintah Jakarta mengimbau kantor swasta di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat masuk pukul 07.30, sedangkan di Jakarta Barat dan Jakarta Timur pukul 08.00. Kebijakan ini dianggap bisa mengurangi tingkat kemacetan 6-14 persen.
Prijanto menjelaskan, berdasarkan survei, setiap hari perjalanan untuk urusan sekolah tercatat 5,3 juta (30 persen) dan bekerja sebesar 5,6 juta (32 persen) dari seluruh aktivitas transportasi warga Ibu Kota. Waktu masuk sekolah lebih pagi diberlakukan, "Penggunaan jalan bisa diatur dan tidak menumpuk dalam waktu yang sama," katanya.
Menurut Edi, pemerintah harus memperhitungkan jarak tempat tinggal sebagian guru dan siswa yang cukup jauh dari sekolah. Saat ini SD 03 Cipinang mulai belajar pukul 07.00 WIB. "Itu pun rata-rata sekitar 17 siswa yang terlambat setiap hari," ujarnya. Beberapa tahun terakhir, siswa pun sudah masuk sekolah 15 menit lebih cepat, yaitu pukul 06.45 WIB. "Tapi itu sukarela, kita isi dengan mengaji. Kalau terlambat tidak dihukum," katanya.
Selain murid, ada beberapa guru yang juga tinggal jauh dari sekolah. Edi sendiri tinggal di Kampung Sawah, Pondol Gede, Kranggan, Bekasi. Karena kemacetan arus lalu lintas di sepanjang Kali Malang, kadang ia membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai ke sekolah.
Begitu juga dengan Anggraini, 34 tahun, orangtua murid. Ia memiliki dua putra yang bersekolah di kelas 2 dan 6 di SD Kebon Jeruk 15, Jakarta Barat. Ia keberatan jika jam sekolah dimajukan. "Sekarang saja anak saya susah bangun pagi," katanya.
Ia merasa kasihan kepada anaknya yang mesti bangun lebih cepat dari biasanya. Sebagai orangtua ia juga harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan kebutuhan anaknya. Apalagi anaknya biasa diantar oleh ayahnya ke sekolah sambil menuju ke kantor. "Orang tua juga harus berangkat kerja lebih pagi," katanya.
Sofian
Web via