Topik
Urban Decay Ancaman Bagi Batam
TEMPO Interaktif, Batam: Peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Suahasil Nazara, mengingatkan ancaman urban decay bagi Batam, yakni perginya masyarakat Batam bila dirasakan tidak memperoleh manfaat.
Urban decay bisa terjadi bila banyak perusahaan tutup akibat hal beragam. Saat ini Batam hanya mengandalkan industri dan industri tersebut dari Singapura. "Ini perlu diwaspadai, dan harus mengubah visi Batam dari daerah industri menjadi kota internasional," katanya.
Selain itu, penduduk Batam 72 persen adalah pekerja yang apabila telah berpengalaman akan pindah ke daerah lain, karena Batam bukan tempat untuk membina kehidupan yang berkelanjutan atau pembangunan tanpa wife factor.
Ia mencontohkan jasa perdagangan tidak tumbuh karena tidak memiliki keunggulan komparatif, jasa hiburan tanpa basis pariwisata yang kuat seperti Bali atau daerah tujuan wisata lainnya di Indonesia. "Jadi sangat mudah orang meninggalkan Batam," lanjut Nazara.
Gejala urban decay ini terlihat dengan penurunan jumlah penduduk warga negara asing sejak tahun 2000, dan penurunan eksposure internasional mempengaruhi gaya dan gerak pembangunan di Batam.
Suahasil juga mengatakan Singapura tidak hanya menjadikan Batam sebagai industri negara itu, tapi juga sebagai tempat sampah. Oleh sebab itu, untuk menumbuhkembangkan pertumbuhan ekonomi dan menjadikan Batam sebagai kota internasional perlu merubah visi tadi. "Lihat Batam sepuluh tahun ke depan bila tidak mengubah visi itu," katanya.
Lembaga Demografi FEUI bekerja sama dengan Lembaga Kemitraan meneliti ganjalan apa yang ada sehingga pembangunan Batam tersendat, meski telah ada Undang-Undang Kawasan Perdagangan dan pelabuhan bebas di tiga daerah, yakni Batam, Bintan dan Karimun.
Kepala Bagian Humas Otorita Batam, Dwi Joko Wiwoho, mengatakan saat ini ada 33 kawasan industri yang menyerap 252 ribu pekerja. Pihaknya belum menerima laporan bahwa akan ada perusahaan yang tutup terutama industri elektronik.
Rumbadi





