Topik


Pulau Jawa Berisiko Tenggelam

TEMPO Interaktif , Jakarta: Peta Potensi rawan bencana dan resiko banjir serta longsor di Indonesia oleh Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan 82,4 persen Pulau Jawa rawan banjir dan 20, 8 persen beresiko longsor. "Erat kaitannya dengan tutupan vegetasi hutan di pulau Jawa yang tinggal tujuh persen," keluh Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman di Jakarta Rabu (26/11). Peta tersebut menunjukkan Jakarta 95,60 persen wilayahnya sangat rawan banjir.


Masnellyarti memaparkan luas tutupan vegetasi berhutan di Indonesia yang tertinggi berada di Papua (81 persen) diikuti Maluku (73 persen). Kawasan Sumatera, Nusa Tenggara dan Bali berkisar 25-27 persen.

Banjir, lanjutnya sangat dipengaruhi curah hujan. Curah hujan yang dulunya mengakibatkan banjir jika mengalir 100 mm/ bulan, kini justru ada yang satu hari saja mencapai 375 mm. "Ini akibat perubahan iklim," tandas Masnellyarti.

Masalah yang tak kalah pentingnya adalah daerah resapan dan tata ruang. Sesuai Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 pada kemiringan diatas 40 persen tidak boleh ada bangunan. "peraturan ini tampaknya tidak dipahami oleh pengambil keputusan didaerah," Kata Masnellyarti dengan kecewa," Akibatnya banjir terus terjadi termasuk longsor,".

Lonjakan jumlah penduduk tak pelak memaksa orang membuat rumah atau bercocok tanam di lereng gunung. Namun pendapat Masnellyarti kalau bisa lahan pribadi yang di kemiringan ditanami pohon yang berfungsi pelindung. "Jangan sayuran, kentang atau singkong,"

Tak hanya serangan banjir, kenaikan air laut di sepanjang Pantai Utara Jawa selama 1984-2008 menunjukkan perubahan sebesar 8mm/tahun. Sementara itu pada 2007 dari 17 propinsi 60 lokasi di tepi panti rusak gara-gara abrasi. Indonesia, kata Masnellyarti itu sudah memiliki aturan yang lengkap, tapi banyak yang tidak taat terhadap syarat-syarat yang diprediksi menimbulkan bencana. "Akibatnya kejadian bencana akan lebih parah,".

DIANING SARI