Tahun Depan, Pelabuhan Batam Satu Pintu

TEMPO Interaktif, BANDUNG:—Mulai tahun depan, layanan jasa dari ratusan pelabuhan di wilayah otoritas kepulauan Batam akan terintegrasi dalam satu pintu, portal layanan. "Untuk perusahaan yang memakai layanan jasa pelabuhan, enggak perlu ketemu orang. Dia cukup dari kantornya melakukan permintaan via internet" kata Kepala Bidang Komersial Kantor Pelabuhan Batam Heri Kafianto di Bandung, Rabu (26/11).


Heri mengatakan, layanan yang terintegrasi itu untuk kebutuhan kapal, bongkar-muat barang, hingga informasi penumpang. Akses pelayanan yang sebelumnya tersebar di 111 pelabuhan di Batam akan dipusatkan di pelabuhan terbesar Batam, yakni Pelabuhan Batu Ampar. Sebagian besar layanan itu bisa diakses lewat internet melalui aplikasi yang kini tengah masuk dalam tahap ujicoba.

Heri mengatakan, aplikasi baru yang mengupgrade sistem teknologi informasi lama, itu sejak diujicobakan di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, sudah mendongkrak pemasukan lewat efisiensi layanan jasa pelabuhan itu. Dia kenaikan pendapatannya signifikan naik sebesar 15 persen. “Tadinya Rp 10 miliar kini menjadi Rp 15 miliar sebulannya,” katanya.

Sistem teknologi informasi lama,  masih membuka peluang kebocoran karena sistem kontrolnya belum efektif. Umumnya, terjadi kesalahan soal updating informasi dalam layanan pelabuhan di Batam, sehingga kerap terjadi sejumlah layanan atau terlambat dijalankan. Sistem baru ini,  juga memangkas birokrasi perijinan. “Tadinya harus melalui empat meja sekarang tidak perlu ketemu orang,” kata Heri.

Aplikasi yang digunakan itu adalah Port Management Portal, buatan PT Dycode Cominfotech Development, perusahaan IT lokal yang bermarkas di Bandung. Perusahaan itu merupakan salah satu pemenang dari iMulai pertama, yakni kontes inovasi piranti lunak yang digagas Senada USAID dengan Microsoft Indonesia. Dycode yang dirintis Andri Yadi, menjadi salah satu dari tiga pemenang kontes inovasi yang diikuti oleh 130 proposal inovasi piranti lunak.

Penggagas piranti lunak itu, Andri Yadi mengatakan, dari data statistik tentang layanan pelabuhan di Indonesia yang jumlahnya 1.735 pelabuhan belum optimal karena belum didukung sistem teknologi informasi yang memadai. Mulai dari tingkat utilisasi dermaga, delay time, hingga loading discharge belum sampai angka optimal 100 persen.

Menurut Andri, soal itu yang menyebabkan pelabuhan Batam kalah bersaing dengan pelabuhan tetangganya yakni di Singapura. Dia membandingkan, dalam setahun pelabuhan di Singapura bisa kedatangan 100 ribu kapal, melayani bongkar muat baarng sampai 17 juta ton, dan dilintasi sampai 20 juta TEuS peti kemas.

Sementara di periode yang sama ratusan pelabuhan di Batam hanya kedatangan 20 ribu kapal, 5 juta ton bongkar muat barang, dan disinggahi 200 ribu TEuS peti kemas. “Padahal untuk kasus itu, ini hanya masalah mau belok ke kanan atau ke kiri,” kata Andri.

Piranti lunak buatan perusahaannya itu, di luar negeri harganya bisa mencapai ratusan ribu US Dollar. Kendati belum mematok harganya, harga piranti lunak yang juga sudah dipakai di pelabuhan swasta milik PT Krakatau Bandar Samudera itu, akan ditekan semurah mungkin.

Portmap, paparnya, bekerja sebagai aplikasi solusi manajemen yang terintegrasi. Piranti lunak itu dirancang sebagai portal yang menjadi satu-satunya pintu masuk untuk mengakses semua layanan dan jasa dari berbagai pelabuhan yang ada. Piranti lunak itu, dirancang agar bisa menyesuaikan diri dengan multi karakteristik layanan pelabuhan.

Dengan piranti lunak itu, jasa layanan pelabuhan mulai dari permintaan ijin tambat, berlabuh, jasa pengisian air, layanan pemandu kapal, hingga ijin bongkar muat bisa diakses lewat internet. Permintaan layanan itu, bahkan bisa dilakukan lewat SMS atau PDA yang sudah ditanam program tertentu.

AHMAD FIKRI