Topik
Indonesia Kekurangan Donor Kornea Mata
TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Indonesia masih kekurangan pendonor kornea mata, sementara saat ini ada sekitar 100 orang penderita yang antre mendapatkan cangkok kornea mata.
"Saat ini sebenarnya tercatat ada 100 sampai 150 donor mata. Persoalannya, kornea mata pendonor itu baru bisa dimanfaatkan untuk orang lain jika pendonor itu telah meninggal dunia," kata Dr Agus Supartono, ahli penyakit mata Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta, menjelang pelaksanaan seminar "Oftamologi Regional Improvment Eye Care Against Corneal Blindness", Kamis (5/12).
Terbatasnya donor mata di Indonesia, menurut Agus, salah satunya karena rendahnya kesadaran masyarakat. Padahal, Bank Mata sudah secara aktif melakukan sosialisasi donor mata kepada masyarakat.
Agus menambahkan, kekurangan donor kornea sebenarnya bisa teratasi dengan adanya donor dari negara lain. Persoalannya, saat ini Indonesia baru memiliki satu laboratorium pengawetan kornea mata di Jakarta. Belum lagi mahalnya ongkos pengganti sebesar US$ 1.500 per kornea.
"Karenanya ketika kami mendapatkan donor mata, baik dari dalam maupun luar negeri, harus memberikannya kepada pasien menurut skala prioritas. Bahkan satu pasien bisa jadi tidak bisa mendapatkan kedua kornea karena minimnya jumlah donor," kata Agus.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Persatuan Dokter Mata (Perdami) DI Yogyakarta, Prof Dr Suhardjo, mengatakan kekeruhan kornea mata menjadi salah satu penyebab kebutaan di Indonesia. Tingkat kebutaan akibat infeksi di Indonesia, khususnya oleh jamur dan bakteri, mencapai 0,1 persen.
"Faktor timbulnya infeksi kornea antara lain karena trauma yang menimbulkan perlukaan kornea, penderita hepatitis, mata kering dan gangguan sistem kekebalan pada pengguna kensa kontak dan ODHA (orang dengan HIV-AIDS)," jelasnya.
Para penderita keratis atau radang kornea itu, lanjut Suhardjo, 50 persen di antaranya tidak tertolong. Selain karena beberapa jenis jamur belum ada obatnya, mereka juga kesulitan memperoleh donor kornea.
Pengobatan yang tidak tepat bagi penderita keratis, justru akan menimbulkan resistensi terhadap obat antibiotik. Walaupun sembuh, katanya, penyakit ini akan menimbulkan cacat kornea yang berwarna putih. Makin luas dan tebal cacat atau kekeruhan kornea, maka makin berat pula gangguan penglihatannya dan bahkan bisa menimbulkan kebutaan. "Penangannya perlu obat, namun dalam beberapa hal perlu pembedahan termasuk cangkok kornea," katanya.
HERU CN