TEMPO/Muradi
Infografis
Meutya Hafid Masih Malu Cari Sumbangan
TEMPO Interaktif, Jakarta:Meski menyadari biaya perjalanannya menuju gedung parlemen di Senayan tidak sedikit, Meutya Hafid, calon legislatif Partai Golkar daerah pemilihan Sumatera Utara 1, itu belum giat mencari dukungan dana.
Menurut perhitungan mantan pembaca berita di salah satu televisi swasta ini, idealnya biaya kampanye yang ia butuhkan sekitar Rp 500 juta. Sejak mulai kampanye bulan Puasa lalu Meutya sudah menghabiskan Rp 100 juta.
Jumlah ini, kata dia, baru untuk keperluan transportasi bolak-balik Jakarta-Medan, ongkos berkeliling di empat kabupaten di Sumatra Utara dan alat-alat peraga. Dalam satu bulan, Meutya mengaku bisa tiga kali terbang Jakarta-Medan.
"Mungkin karena saya masih baru, saya masih sungkan cari sponsor. Selama ini paling dari teman-teman saja," kata Meutya kepada Tempo melalui telepon selular, Selasa (23/12). Saat dihubungi Meutya sedang dalam perjalanan kampanye di Medan, Sumatra Utara.
Beruntung Meutya memiliki teman-teman yang berinisiatif menawarkan bantuan. Misalnya, ada kawannya dari televisi swasta yang membelikan tiket pesawat untuk berangkat ke Medan. Ada pula yang menyumbangkan alat-alat peraga seperti kalender dan stiker sampai uang tunai.
Dengan bantuan-bantuan ini, Meutya tetap harus merogoh koceknya sendiri dalam-dalam untuk membiayai kampanye. Sampai saat ini, Meutya mengaku belum mendekati kalangan pengusaha untuk mensponsori kampanyenya, termasuk Surya Paloh, mantan bosnya yang sekaligus petinggi partai yang mencalonkan Meutya sebagai calon legislatif.
"Kalau Pak Surya cuma kasih dukungan moral," katanya. ntuk menyiasati keterbatasan waktu dan dana, Meutya belajar memetakan daerah-daerah basisnya. Wartawan yang pernah disandera di Irak ini mengaku kewalahan jika harus bertempur di daerah pemilihannya yang meliputi Kota Medan, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, dan Kota Tebing Tinggi.
Apalagi untuk memperebutkan 10 kursi yang tersedia untuk daerah pemilihannya, ia bersaing dengan banyak petinggi partai seperti Panda Nababan dari PDI Perjuangan, TIfatul Sembiring dari PKS dan Burhanuddin Napitupulu dari Partai Golkar.
BERNADETTE CHRISTINA