Topik
Bogor Alami Kelangkaan Pupuk Urea
TEMPO Interaktif, Bogor: Terbatasnya persediaan pupuk bersubsidi jenis urea saat memasuki masa tanam Oktober hingga Maret di wilayah Bogor saat ini, membuat sejumlah distributor lebih menitik beratkan pada masalah ketersediaan pupuk dibanding menetapkan harga eceran tertinggi (HET).
Hal tersebut diungkapkan Ketua Tim Pemantau Pupuk Bersubsidi, Riris Purba. Dia juga mengungkapkan, saat ini meskipun secara kumulatif kebutuhan pupuk relatif aman, tapi ia mengakui pada Desember ini ada kekurangan stok pupuk urea untuk kawasan Bogor, Jawa Barat.
Pada Desember ini kebutuhan pupuk untuk 23.000 hektar persawahan mencapai 5.600 ton, sedangkan yang sudah terealisasi baru mencapai 4.400 ton. “Berapa kekurangannya, kita masih menunggu konfirmasi dari PT Kujang,” kata Riris.
Selain itu, terbatasnya ketersediaan pupuk juga terjadi di tingkat agen, karena masih ada agen yang mengalami kesulitan pada saat melakukan penebusan pupuk. Akibatnya pendistribusian pupuk jadi terhambat.
“Kalau debit order (DO) tinggal ditebus saja. Jika ada agen di wilayah yang masih kekurangan stok pupuk, nanti distributor di wilayah lain akan membantu, baik penyaluran maupun pembayarannya. Jadi tidak perlu khawatir,” ucap Riris.
Saat ini ada enam distributor sudah mengantungi DO yang siap membantu agen binaannya dalam hal penyediaan pupuk, sehingga sisa kekurangan pupuk yang ada bisa segera terpenuhi.
Kini persediaan urea di Gudang Lini III masih terdsedia 650 ton, sedangkan di gudang masing-masing distributor total persediaan pupuk mencapai 575 ton, sementara sisanya masih dalam bentuk DO.
“Kalau menyangkut penebusan pupuk ini kan menyangkut masalah finansial, meskipun stok di gudang tersedia tapi agen belum bisa melakukan penebusan, distribusi bisa terhambat,” ucap dia.
Lebih lanjut Riris menjelaskan, yang bisa menjadi masalah adalah penyaluran di tingkat agen. Sebab seandainya agen di satu wilayah kehabisan persediaan, maka mereka akan mengambil pupuk ke distributor di wilayah lainnya.
Kondisi terebut akan memperpanjang mata rantai distribusi, dan konsekuensinya harga jual pupuk tidak bisa sesuai dengan harga eceran tetap seharga Rp 1.200. “Masih banyak kendala teknis yang harus dibenahi supaya harga jual pupuk sesuai HET," kata Riris.
Namun, bukan berarti membenarkan penjualan harga pupuk di atas HET, tapi sekarang ini diprioritaskan pupuknya ada dulu, jangan sampai terjadi kelangkaan pupuk seperti di wilayah lain,” tutur dia.
DIKI SUDRAJAT





