TEMPO/Zulkarnain
Topik
Teks Sastra Kota
TEMPO Interaktif, Jakarta:
tpara pembantu rumah tangga
adalah tulang betik ibu kota
Jakarta harus minta maaf
membayar kalian terlalu rendah
Puisi karya penyair Eka Budianta itu dicetak di atas selembar stiker berwarna kuning. Stiker ini salah satu dari 10 ribu stiker berisi teks-teks sastra karya sejumlah sastrawan yang dibagi-bagikan dalam acara peluncuran Sastra di Ruang Kota di Taman Menteng, Sabtu sore lalu.
Stiker itu juga ditempelkan di ruang-ruang publik. Bahkan, relawan Dewan Kesenian Jakarta, sebagai pelaksana acara, juga membagikan stiker-stiker itu di beberapa mal di Jakarta. Sastra di Ruang Kota ini dimaksudkan untuk menjadikan sastra sebagai pengalaman bersama dan keseharian sifatnya.
Selain stiker, ada 500 lembar kaus oblong dengan lima desain, juga berisikan teks sastra. "Sebanyak 300 kaus dibagikan gratis dan habis semua," kata Zen Hae, ketua komite sastra Dewan Kesenian Jakarta, seusai acara. Semua teks sastra itu, menurut Zen, adalah berbicara tentang Jakarta.
Ada pula kutipan cerpen atau novel dan berita tempo doeloe tentang Jakarta yang dilukis dalam bentuk mural di 10 lokasi. Teks cerpen dan novel yang dikutip adalah karya Hamsad Rangkuti, Afrizal Malna, Firman Muntaco, Misbach Yusa Biran, dan Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan berita-berita tempo doeloe tentang Jakarta dikutip dari koran Keng Po, Bintang Betawi, dan Netatja.
Mural itu, menurut Zen Hae, tersebar di 10 tempat. Tempat-tempat itu antara lain di Stasiun Cikini, lintasan bawah Manggarai, Stasiun Cakung, depan gedung Antam Tanjung Barat, Jalan Pierre Tendean, depan gedung Trans TV, Jalan Sultan Agung, depan Kebon Binatang Ragunan, Jalan Kwitang, Jalan Pintu Kecil, dan Glodok. Mural itu dibuat oleh Bujangan Urban, Kuda Poni, Ale Antiponi, Propagraphic, dan Kuas Nâ?? Roll.
Teks-teks itu akan berdampingan dan bertarung dengan iklan, spanduk dan baliho caleg, papan pengumuman pemerintah, serta ornamen kota lainnya.
MUS





