Konflik Agama Terjadi karena Ada Penyimpangan

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Majelis Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin, menyatakan konflik yang berawal dari agama terjadi karena ada  penyimpangan dari suatu agama. "Ini termasuk penodaan agama," kata dia, saat dihubungi Tempo,Rabu (14/1).

Sebab itu, ia menambahkan, majelis berusaha mencegah luasnya konflik dengan mengeluarkan Fatwa. "Sudah pagi-pagi kami menyatakan sesat atau tidak," kata Ma'ruf, "Kalau tidak, tindakan akan terjadi di luar kontrol."

Sebelumnya, Institute for Democracy and Peace SETARA mencatat sepanjang 2008 lalu terjadi sebanyak 367 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam 265 peristiwa. "Paling banyak menimpa Jemaah Ahmadiyah, yakni 238 tindakan pelanggaran,” kata Wakil Ketua SETARA, Bonar Tigor Naipospos, di Jakarta, kemarin.

Menurut Ma'rfu, selama ini, masyarakat tidak ada masalah mengenai keberagaman, baik agama dan politik. Namun, mereka sudah tahu, ada yang disepakati dalam suatu agama yang  boleh berbeda dan ada yang memang tidak boleh dibedakan. Sebab itu, ketika ada yang menyimpang, masyarakat segera tahu. Sebelum masyarakat bereaksi, kata Ma'ruf, maka majelis segera mengeluarkan aksinya berupa fatwa.

"Majelis selalu mengarahkan tidak boleh ada kekerasan." kata Ma'ruf. Jika kemudian terjadi kekerasan di beberapa daerah, menurut dia,  itu sudah di luar kekuasaan majelis. "Kita tidak bisa mengawasi seluruhnya, " katanya.

DIANING SARI