Topik
Infografis
Kalla: Pendidikan Surau Minangkabau Mesti Disesuaikan
TEMPO Interaktif, Bukittinggi: Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pendidikan agama di surau yang berlangsung di Minangkabau pada zaman dulu harus diubah dan disesuaikan dengan perkembangan zaman dan teknologi.
"Kalau zaman dulu bertemu dengan 10 orang, seorang di antaranya orang Padang, ketika salat maka ia didorong karena diyakini bisa menjadi imam. Kalau sekarang saya minta Pak Irman (Gusman, anggota DPD), jadi imam belum tentu dia mau, begitulah perkembangannya," kata Kalla.
Guyonan Kalla disambut tawa sekitar 500 pengurus Muhammadiyah Sumatera Barat dalam acara puncak Milad Muhammadiyah ke-99 di kampus Fakultas Kesehatan dan MIPA Universitas Muhammadiyah di Belakang Balok, Bukittinggi, Ahad (25/1).
Nama Irman yang dijadikan sasaran "garah" Kalla adalah Irman Gusman, anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) Sumatera Barat yang juga hadir dalam acara itu. "Kenapa ini terjadi, karena kondisi mengubahnya," kata Kalla.
Kalla menceritakan tentang kisah ayah mertuanya, Buya Mi'ad, ayah dari Mufidah Jusuf Kalla yang berasal dari Minangkabau. Buya Mi'ad belajar mengaji dan ilmu agama dari surau semenjak kecil. Di suraulah dimulainya filosofi ABS-SBK (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah) yang sering disebut para tokoh Minang kepada Jusuf Kalla.
"Kebiasaan ke surau itu kemudian hilang karena pengaruh teknologi. Semua rumah ada listrik, ada listrik ada TV, habis magrib anak-anak langsung nonton TV, tak lagi pergi mengaji. Jika ini terus berlanjut dan tak ada cara lain, maka bisa hilang Kitabullah," kata Kalla.
Menurut Kalla, sesuai dengan gerakan pembaruan agama seperti yang dijadikan dasar perjuangan Muhammadiyah, maka kondisi seperti ini juga perlu disiasati dengan cara lain.
"Meski tak lagi tidur di surau, pendidikan umum yang lebih baik mesti bisa menggantikannya. Dan kalau nonton acara TV, acaranya yang perlu diperbaiki, jangan acara hantu-hantuan terus," katanya.
Beda orang Minangkabau dengan masyarakat lain, kata Kalla, adalah agamanya. Tanpa dilakukan pendidikan yang menekankan aspek keagamaan dan perubahan-perubahan mendasar, maka masyarakat Minangkabau akan sama dengan masyarakat lain.
FEBRIANTI