Banyak Sekolah Rawan Ambruk Karena Salah Rancang

TEMPO Interaktif, BANDUNG: - Gedung Sekolah Dasar yang dibangun era 70-an alias SD yang dibangun dengan dana Instruksi Presiden (Inpres) di Jawa Barat banyak yang rawan roboh jika terkena gempa. Sekolah yang kerap terendam banjir lebih rawan lagi. "Sejak awalnya memang sudah salah rancang," kata Khrisna Suryanto Pribadi, peneliti dari Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung.

Khrisna tak asal ucap. Dari penelitiannya bersama tim program United Nation Center for Regional Development di dua sekolah dasar tahun lalu, seluruhnya dalam kondisi berbahaya. Penyebabnya antara lain karena pemilihan bahan bangunan yang murah dan asal-asalan, juga teknik seperti mengaduk semen dan cara pemasangan baja yang salah.

 "Kalau kena gempa, material itu bergerak sendiri-sendiri ke mana-mana," katanya kepada Tempo, Sabtu (24/1). Penelitian itu dilakukan di SDN Cirateun, Kota Bandung, dan SDN Padasuka, Soreang, Kabupaten Bandung.

Menurut Khrisna, gedung-gedung sekolah Inpres umumnya dibangun tanpa gambar detil dan melibatkan ahli bangunan. Pemeliharaannya pun kurang sehingga memperpendek masa kekuatan gedung sekolah yang harusnya bisa berumur 25 hingga 50 tahun. "Perbaikan biasanya kosmetik saja, hanya bagus di luar karena dananya sedikit," ujarnya.

Di Jawa Barat, katanya, separuh dari total gedung sekolah dasar yang rusak berat masuk dalam kategori rawan runtuh jika terkena gempa. Dia mengusulkan agar alokasi dana perbaikan sekolah diperbanyak, khususnya bagi sekolah yang berada di daerah rawan gempa. Dari hasil perbaikan timnya pada sebuah SD dengan 8 ruangan, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 300 juta. Perbaikan itu mulai dari penambahan pondasi agar struktur bangunan kuat hingga pengikatan tiang dan dinding.

Kemarin, GUbernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan masih ada 25 ribu ruang kelas rusak yang harus diperbaiki. Pihaknya tengah mengajak perusahaan negara dan swasta untuk ikut membantu pendanaan. Sejak 2006, pemerintah mengklaim telah menangani 21 ribu ruang kelas rusak.
ANWAR SISWADI