Sri Sultan HB X
Infografis
Sultan Tak Diberi Kesempatan? Yo, Ora Popo...
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sri Sultan Hamengku Buwono X disebut-sebut calon terkuat pendamping Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan. Manuver anggota Dewan Penasihat Golkar ini membuat gerah sejumlah politikus Partai Golkar karena dianggap bisa memecah kekuatan partai. Wartawan Tempo, Bernarda Rurit dan L.N. Idayanie, mewawancarainya di Keraton Kilen, Yogyakarta, pekan lalu. Berikut ini petikannya.
Sultan diminta mundur sebagai kader Golkar?
Lo, saya ini kan tetap kader Golkar. Menyuruh saya mundur itu kan maunya: supaya di Golkar tidak ada kompetisi dengan saya. Mungkin orang-orang itu sudah antre untuk jadi menteri. Siapa tahu? Kan, saya tidak tahu juga. Mereka kan punya harapan besar. Kalau saya tidak ada di situ, kan otomatis mengurangi satu lawan politik pada waktu nominasi.
Kalau Sultan tak didukung, apakah bertahan di Golkar?
Bupati, gubernur yang kader Golkar dicalonkan partai lain kan tak jadi masalah selama tidak melanggar apa pun. Lha, terus masalahku ki opo? Sampai sekarang PDI Perjuangan kan juga cuma membuat kriteria. Kriterianya kan umum sekali, siapa pun boleh.
Benarkah ada kesepakatan antara Sultan dan Megawati?
Kami ini kan hanya ngomong-ngomong. Itu belum final. Kami sama-sama paham Ibu Mega anaknya siapa, saya anaknya siapa. Bagaimana bapak kami berdua memberi kontribusi untuk negara ini. Mestinya anak-anaknya menjaga nama baik orang tua. Berarti hakikatnya mengabdi, to. Bu Mega mengatakan PDIP membutuhkan pemimpin nasional, bukan pemimpin partai politik. Berarti tidak mementingkan subyektivitas, entah dirinya, entah partainya.
Jusuf Kalla melarang Sultan maju?
Nggak mungkin. Kan, hasil survei. Timbul pro dan kontra. Yang pro punya alasan, yang tidak juga punya alasan. (Berbagai hasil survei menunjukkan Sultan merupakan calon yang cukup populer baik sebagai calon presiden maupun wakil presiden, selain tokoh lain seperti Jusuf Kalla)
Golkar daerah pendukung Anda?
Sulit dideteksi. Tidak akan ada keberanian bicara sebelum ada nominasi lewat survei.
Transmigran dan mantan mahasiswa Yogyakarta basis kekuatan Anda di luar Jawa?
Kalau itu closed, he-he-he.... Itu sama saja membuka rahasia dapur. Ada pengamat bilang Sultan hanya dikenal di Yogya dan sekitarnya. Saya malah berterima kasih. Berarti dia nggak ngerti yang terjadi. Harapan saya, politikus mengecilkan saya.
Pendukung di Golkar?
Nggak tahu. Tapi kalau pemilihan presiden yang dipilih kan orang, bukan partai. Jadi orang mencoblos Golkar, waktu pemilihan presiden kan bisa mencoblos saya yang diusung partai lain. Inikan performance orang.
Surya Paloh mengenalkan Sultan ke daerah?
Saya memang kenal baik. Dia ketua saya di Dewan Penasihat. Karena kader Golkar, saya diajak ke Kalimantan Tengah. Ya, wajar saja to, wong saya dewan penasihat. Apa yang salah?
Anda mendeklarasikan diri sebagai calon presiden, bagaimana kalau tidak jadi?
Ya, nggak apa-apa. Itu bisa terjadi. Bisa juga tidak terjadi. Saya minta maaf saya tidak mampu membangun harapan. Bagi saya, tidak ada masalah. Berarti rakyat memang tidak menghendaki. Kalau tidak diberi kesempatan, yo, ora popo.
