indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Dua Dunia Gita Wirjawan (bagian ke 1 dari 2 tulisan)

Dua Dunia Gita Wirjawan (bagian ke 1 dari 2 tulisan)

Sehari bersama Gita Wirjawan (Tempo/Panca Syurkani;20090124)

TEMPO Interaktif, Jakarta: Setelah kembali dari Amerika Serikat pada 2005, Gita Wirjawan dikenal di beberapa lingkungan yang berbeda. Sebelumnya, dunia usaha mengenal dia sebagai bankir. Gita adalah orang nomor satu di JP Morgan Indonesia. Tapi, tahun lalu, ia meninggalkan posisi itu dan mendirikan Ancora Capital, perusahaan investasi di bidang sumber daya dan pertambangan.

Ancora didirikan lantaran Gita mencium gelagat akan terjadinya resesi ekonomi, yang berembus dari Amerika Serikat, awal tahun lalu. Ia mengaku sempat menyampaikannya kepada pemerintah, ekonom, dan kalangan usaha. "Tapi tak ada yang peduli waktu itu," ujar komisaris baru Pertamina tersebut, mengenang.

Di kalangan musisi, jebolan sekolah musik Berkeley, Amerika Serikat, itu dikenal sebagai promotor dan musikus jazz. Ia sukses mengorbitkan Tompi, Bali Lounge, pembetot bas Hari Toledo, dan Nial Djuliarso lewat perusahaan berlabel Omega yang didirikannya. Gita juga pernah manggung di kafe dan menulis lagu dalam album-album yang diterbitkannya. Pada 2005, ia bermain bersama pentolan grup jazz Fourplay, Bob James, ketika menggelar pentas di Jakarta.

Selain bisnis dan musik, Gita penggemar golf sejak bocah. Tak main-main, ia mendirikan sekolah golf dan asrama bagi pegolf muda. Seperti kecintaannya pada golf, ia juga ingin mengembangkan jazz melalui sekolah yang akan didirikannya. Sabtu dua pekan lalu, Tempo bersamanya.

Pukul 07.30
Rumah Gita Wirjawan
Four Seasons Residence
Kuningan, Jakarta Selatan

Ditemani anak keduanya, Gibran Putra Wirjawan, 10 tahun, Gita Irawan Wirjawan keluar dari apartemen menuju lobi. Pagi itu mereka berseragam, berkaus hijau dan bersepatu Nike putih--kesukaan Gita.

"Nggak sengaja. Ketika kami bangun pagi, semuanya, istri dan anak, pakai baju hijau," ujarnya sambil menenteng perangkat golf untuk dimasukkan ke mobil.

Mengendarai Toyota Crown Royal Saloon, Gita dan Gibran menuju padang golf di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Biasanya, setiap akhir pekan, Gita bermain golf bersama tiga anaknya: Gian Putra Wirjawan, 14 tahun, Gibran, serta Gia Putri Wirjawan, 5 tahun. Tapi pagi itu si sulung Gian berlatih di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, untuk mempersiapkan diri dalam kualifikasi turnamen golf tingkat dunia sebagai wakil Indonesia. Sedangkan Gia dan Yasmin Stamboel, istri Gita, punya urusan sendiri.

Selain golf, Gita gemar main basket, renang, dan sepak bola. "Tapi, karena usia dan waktu, hanya golf yang masih rutin saya lakukan."

Pukul 09.00
Padang Golf Bumi Serpong Damai
Tangerang

Setelah menyapa pegawai dan instruktur Ancora Golf, Gita mengayun tongkat golfnya. Selama 45 menit ia berlatih memukul bola dan melambungkannya ke arah danau.
Golf bukan olahraga yang baru dikenal Gita. Sejak usia 10 tahun, ia mengenal golf dari ayahnya, Wirjawan Djojosugito (almarhum). Awalnya hanya menemani sang ayah bermain golf di akhir pekan, lama-lama ia menggemarinya.

Kegemaran itu pun berlanjut ketika pada usia 13 tahun Gita mengikuti orang tuanya, yang ditugasi ke Bangladesh sebagai wakil pemerintah Indonesia di Badan Kesehatan Dunia (WHO). Dari Bangladesh, keluarga Wirjawan pindah lagi ke India tiga tahun berikutnya. Di kedua negara itu, lelaki kelahiran 21 September 43 tahun lalu tersebut terus mengasah kemampuan bermain golfnya hingga menjuarai beberapa turnamen regional.

Kecintaannya pada golf dia tularkan kepada ketiga anaknya dan pemula yang berbakat. Ia mendirikan sekolah Ancora Golf untuk mencari bibit pegolf muda dari pelosok Indonesia. Mereka dididik instruktur dari Singapura untuk dipersiapkan mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional. Bahkan biaya hidup murid Ancora, yang berjumlah enam orang, ditanggung Gita, termasuk uang saku Rp 4 juta per bulan. "Saya ingin mereka benar-benar serius dan tidak lagi memikirkan biaya," kata Gita.

Setelah bermain golf, Gita ke gym, yang juga baru dibangunnya, di kompleks lapangan golf itu. Keringat membasahi tubuhnya setelah dia mengangkat beban dan bersepeda. "Saya mandi dulu," ujarnya kepada Tempo.

Seusai mandi, Gita menengok pembangunan asrama untuk murid-murid golf. Setelah mengecek fasilitas asrama, seperti televisi plasma, Wi-Fi, dan penyejuk udara, Gita kembali ke apartemennya.

Sejak kembali ke Indonesia pada 2005, Gita memilih tinggal di apartemen, dengan alasan, "Saya merasa lebih aman tinggal di apartemen." Pengalaman salah satu kakaknya yang kerampokan ketika tinggal di kompleks perumahan membuatnya trauma.

Sampai di apartemen, Gita bermain piano sambil menunggu Yasmin pulang. Ia memainkan Selalu Denganmu, diiringi permainan gitar Gibran.

Gita dikenal sebagai pemain jazz. Ia pernah bermain dengan pentolan grup jazz Fourplay, Bob James, ketika pemain piano itu menggelar konser di Jakarta pada 2005.

Gita mulai memainkan alat musik sejak masih bocah. Sang ayah memintanya belajar piano klasik. Awalnya Gita tidak tertarik, tapi ia merasa bisa menikmatinya. Lama-lama ia senang bermusik dan belajar bermain gitar, biola, saksofon, hingga siter--alat petik dalam musik Jawa. Dari semua alat musik yang bisa ia mainkan, gitar melodi adalah favoritnya.

Selanjutnya >>

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan