Partai Politik Dinilai Belum Berikan Solusi Masalah Buruh

TEMPO Interaktif, Jakarta: Partai politik peserta pemilihan umum dinilai tak ada yang secara detail membahas solusi bagi permasalahan buruh. "Padahal banyak aktivis buruh yang mencalonkan diri," ujar Ketua Presidium Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu FX. Arief Poyuono dalam siaran pers yang diterima Tempo, Selasa (10/2).

Ia berpendapat, jika kondisi tersebut dibiarkan, suara kaum buruh yang jumlahnya mencapai 89 juta orang hanya akan dieksploitasi oleh partai politik. "Tapi nasib kaum buruh tetap tak diperhatikan," kata Arief.

Menurut dia, tak jauh beda dari pemegang tampuk kekuasaan sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla tak banyak berpihak pada buruh. Ia menilai tak ada jaminan pemerintah akan kepastian kerja dan peningkatan kesejahteraan buruh. Contohnya, politik upah murah tetap dipraktekkan pemerintah, karena nilai yang ditetapkan masih jauh dari kebutuhan buruh agar bisa hidup lebih baik.

"Saat krisis energi melanda, pemerintah mengeluarkan peraturan yang memaksa buruh untuk tetap bekerja pada Sabtu dan Minggu tanpa dianggap lembur," ujar Arief. Sedangkan selepas krisis finansial, pemerintah melansir aturan yang memberikan celah pada perusahaan untuk merumahkan atau tidak menaikkan upah.

Untuk mengatasinya, kata Arief, buruh harus berembug untuk menginventarisir persoalan dan solusi mereka yang selanjutnya akan disampaikan pada partai politik. "Federasi akan mengundang ratusan aktivis buruh dari beragam kota besar berkumpul di Jakarta tanggal 4-7 Maret nanti," ujarnya.
Bunga Manggiasih