Praktik Dukun Cilik Distop, Ponari Ingin Sekolah Lagi

TEMPO Interaktif, Jombang:  Ponari akhirnya menghentikan praktik dukunnya setelah tiga minggu melayani ribuan pasien. Alasannya, dukun cilik ini ingin melanjutkan sekolah. Ia baru duduk di bangku kelas tiga SD.  "Pengobatan Ponari dihentikan seterusnya," kata Kepala Kepolisian Resor Jombang, Ajun Komisaris Besar Muhammad Khosim, ketika dihubungi Tempo, Selasa (10/2)

Penghentian praktek pengobatan itu, menurut  Khosim,  diputuskan  orang tua Ponari di depan Bupati Jombang Suyanto. "Bupati  memberikan alat tulis dan tas untuk Ponari,"  kata Khosim. Ia minta warga yang terlanjur datang ke Desa Balongsari, Megaluh, Jombang, segera pulang dan yang berniat datang membatalkan.

Terkait kematian empat orang pengunjung, polisi tidak akan melanjutkan upaya pengusutan lebih lanjut karena hasil penyelidikan menunjukkan kematian mereka bukan akibat pengobatan  Ponari. "Korban mati bukan karena terinjak-injak tapi karena sakit," ungkap  Khosim.

Selama tiga minggu pasien Ponari berjumlah ribuan. Mereka mengalir dari berbagai kota di Jawa Timur. Ponari memberi obat pasiennya dengan cara mencelupkan batu yang diperolehnya saat disambar geledek. Sejauh ini belum ada bukti pasien yang diobati Ponari sembuh.

Mulai hari ini sekitar  400 polisi  dan dibantu  tentara  diterjunkan untuk pengamanan rumah Ponari dari kedatangan tamu. Mereka diminta pulang dan dilarang datang kembali. "Kami kewalahan karena pengunjung membludak dan antrean tidak tertib,"  kata Khosim.

Hingga berita ini dibuat pengunjung masih berdatangan dari berbagai kota seperti, Jakarta, Sidoarjo, Malang, Yogyakarta dan Samarinda. Hal itu terlihat dari nomor kendaraan seperti leter B, AD, AB, dan lain-lain. Sudiyono yang datang dari Samarinda berharap Ponari membuka lagi praktek pengobatannya. Ia belum sempat "diobati",  Ponari.

YEKTHI HM