Pertumbuhan Sektor Pertanian di Jawa Barat Paling Rendah

TEMPO Interaktif, Bandung-- @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->:  Badan Pusat Statistik Jawa Barat mencatat laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat memasuki triwulan keempat tahun 2008 lalu mencapai minus 0,49 persen. ”Pertumbuhan terendah ada pada sektor pertanian sebesar minus 10,57 persen,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Barat Lukman Ismail di Bandung, Senin (16/2).

Menurut Lukman, pertumbuhan tertinggi dicapai sektor listrik, gas, dan air sebesar 2,94 persen, disusul sektor industri pengolahan sebesar 2,39 persen, dan sektor jasa-jasa 1,06 persen.

Lukman menambahkan, rendahnya pertumbuhan sektor pertanian ini tidak hanya pada perhitungan terhadap triwulan sebelumnya (quarter to quarter), tapi juga pada perbandingan dengan tahun sebelumnya (year on year).

Dibandingkan triwulan empat tahun 2007, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto pada triwulan empat tahun 2008 mencapai 4,5 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai sektor bangunan sebesar Rp 19,19 persen. ”Sedangkan pertumbuhan terendah pada sektor pertanian sebesar minus 11,22 persen,” ujarnya.

Menurut Lukman, rendahnya petumbuhan sektor pertanian ini tidak terlepas dari produksi padi yang menurun. ”Karena itu pemerintah harus memberikan stimulus kepada sektor ini agar bisa bertahan,” ujar Lukman.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat Helmi Anwar mengakui sektor pertanian di Jawa Barat mengalami penurunan pada triwulan keempat tahun lalu. Salah satu penyebabnya, kata Helmi, hampir sepertiga luas sawah di Jawa Barat yang terendam banjir mengalami puso. ”Luasnya 11.056 hektare,” katanya

Untuk mendorong sektor pertanian ini, kata Helmi, pihaknya akan fokus pada sejumlah program seperti Program Usaha Agrobisnis Pedesaan yang diluncurkan pemerintah pusat dan program Gerakan Multi Aktivitas Agribisnis (Gemar). ”Kami juga akan menjaga ketersediaan pupuk dan benih,” katanya.

Menurut Helmi, dalam Program Usaha Agrobisnis Pedesaan, Jawa Barat akan mendapat kucuran dana sebesar Rp 100 juta per desa. ”Total desa yang dibantu ada 621 desa di Jawa Barat,” katanya.

Sedangkan Gerakan Multi Aktivitas Agribisnis, kata dia, adalah program pemerintah Jawa Barat yang antara lain bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani. Sebagai langkah awal, kata Helmi, pihaknya akan memilih lima puluh lokasi yang petaninya sudah siap. ”Kami akan membantu mensubsidi bunga pinjamannya,” katanya.

Rana Akbari Fitriawan