Topik
Infografis
Menjelang Oscar, Film Berlatar Holocaust Menuai Kritik
TEMPO Interaktif, Hollywood: Dalam beberapa bulan terakhir, Hollywood dibanjiri film-film berlatar belakang Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Perdebatan mengenai film-film tersebut menjelang Academy Awards (Oscar) akhir pekan (22/2) nanti pun mencuat dalam beberapa hari terakhir.
Penghargaan Oscar tahun ini diwarnai dengan sejumlah film yang disebut sebagai 'film-film Holocaust (pembantaian massal Nazi Jerman terhadap warga Yahudi)': "The Reader", "The Boy in the Striped Pajamas", "Good", "Valkyrie", "Adam Resurrected", dan "Defiance".
Di antara film-film berlatar sama tersebut yaitu "The Reader" membetot perhatian para pencinta film di dunia. Pasalnya, "The Reader" dinominasikan mendapat lima Oscar termasuk untuk film terbaik, sutradara terbaik, aktris terbaik.
Film-film berlatar belakang maupun bertema Nazi dan Holocaust sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Salah satu film yang dinilai menjadi pencipta trend film-film tersebut adalah "Schindler's List" yang rilis pada 1993.
Namun, membanjirnya film-film berlatar belakang Nazi saat ini mengundang kontroversi dari sebagian kritikus dan pengamat film. Pasalnya, film-film tersebut dianggap mengungkit-ungkit kembali tragedi pembantaian massal.
Deputi Editor The Hollywood Reporter Andre Wallenstein menilai mengekploitasi tragedi massal membuat para korban Holocaust teringat kembali. "Alasan utama banyaknya film-film seperti itu adalah mereka mengincar penghargaan," ujar Wallenstein.
Menurut Direktur Studi Film di Universitas Columbia Annette Insdorf, wabah film-film berlatar Holocaust menunjukkan Hollywood takjub dengan cerita-cerita kekejaman perang, perjuangan, dan balas dendam.
Kritik pun ditujukan ke film seperti "The Reader". Jurnalis di New York yang juga penulis buku "Explaining Hitler: The Search for the Origins of His Evil", Ron Rosenbaum, menilai "The Reader" merupakan "film Holocaust terburuk yang pernah dibuat".
"Fakta yang menyatakan bahwa film itu dinominasikan untuk film terbaik Oscar menunjukkan bukti bahwa ada semacam asumsi di Hollywood bahwa sebuah film Holocaust harus diberi penghargaan. Titik," ujar Rosenbaum.
"The Reader" merupakan film adaptasi dari novel karya Bernhard Schlink yang disutradarai Stephen Daldry. Film tersebut menceritakan percintaan antara seorang wanita mantan penjaga kamp konsentrasi (Kate Winslet) dengan seorang pemuda belia Jerman yang tidak mengetahui sama sekali latar belakang.
Menurut penulis di koran Los Angeles Times Scott Feinberg, film-film Holocaust diminati para pemilih di Academy Awards karena film tersebut melontarkan pernyataan penting.
"Film-film yang menang adalah film yang membuat Anda memikirkan pertanyaan besar setelah menyaksikannya," ujar Feinberg. "Hollywood mendapat kritik karena film seperti The Reader tahun ini. Banyak orang kecewa karena mereka menganggap film itu pasti meraih Oscar. Saya rasa orang semakin sensitif karena mereka menilai Holocaust digunakan untuk alasan lain (mendapat penghargaan)."
Fakta menarik juga terlihat dari membanjirnya film-film Holocaust tersebut. "The Reader" yang mendapat nominasi Oscar baru meraih pendapatan bersih US$ 13 juta (Rp 152,7 miliar) di Amerika Serikat. Padahal, biaya pembuatan film tersebut mencapai US$ 32 juta (Rp 376 miliar).
Akibatnya, "The Reader" dinilai kurang sukses dari sisi pendapatan. Pendapatan "The Reader" lebih sedikit dibandingkan dengan "Schindler List's" yang meraup US $ 96 juta (Rp 1,1 triliun) di Amerika Serikat.
"The Reader" juga dikritik karena dinilai kurang berkualitas ketimbang "The Dark Knight". "The Dark Knight" tidak mendapat nominasi Oscar untuk film terbaik, meski dinilai sukses secara ekonomis. "Banyak orang kecewa tahun ini karena 'The Reader' menyingkirkan 'The Dark Knight'," ujar Feinberg.
Menurut Feinberg, "The Reader" menyingkirkan "The Dark Knight" hanya karena "The Reader" mengusung tema Holocaust. Lantas, mampukah "The Reader" menyabet lima Oscars akhir pekan nanti?
AFP| HAARETZ| KODRAT SETIAWAN