Atasi Jakarta Ables, Pemetaan Kawasan Sangat Mendesak

TEMPO Interaktif, Jakarta: Mengatasi Jakarta dari ancaman tanah ambles akibat penyedotan air secara besar-besaran,  pemerintah harus memetakan daerah yang masih bisa dikembangkan dan dihentikan pembangunannya. Tak ada konstruksi bangunan yang sanggup menjawab amblesnya tanah.

"Pemetaan itu perlu studi geologi yang lebih detail," kata Suyono Herlambang, ahli tata ruang dari Universitas Tarumanegara, Jakarta, ketika dihubungi Tempo, Selasa (3/3). Infrastruktur bagi daerah yang dikembangkan, kata dia, harus benar-benar disiapkan.

Pemerintah, kata dia, juga  perlu memberikan insentif terhadap pengembang, yang melakukan investasi air bersih. Dia mencontohkan kawasan Kelapa Gading di Jakarta Utara, kondisinya sekarang ini  tidak layak lagi untuk dikembangkan proyek gedung bertingkat. Kepala Gading bisa dibilang sudah masuk katetegori daerah tertutup untuk proyek gedung pencakar langit. 

Alasannya, daerah tersebut sudah tidak kuat menahan beban. Sebagai indikator, kata Suyono, ketika terjadi hujan selama setengah hari langsung air tergenang. Banjir itu pada 3 tahun belum separah sekrang. Artinya, daerah resapan airnya sudah berkurang drastis.

Selain itu, menurut dia,  ada aturan tegas mengenai koefisien dasar bangunan dan koefisien dasar hijau. Yang terjadi saat ini banyak pohon ditanam di atas bangunan tinggi tapi di bawah digunakan parkir. Menanam pohon di atas bangunan tak ada korelasinya dengan banjir.  "Yang dibutuhkan areal resapan air," ujarnya.

Sebelumnya, peneliti teknik lingkungan dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali,  memperkirakan Jakarta akan tenggelam sebelum 2012. Itu disebabkan oleh penyedotan air tanah secara berlebihan di Jakarta sehingga permukaan tanah Ibu Kota semakin turun.

RINA WIDIASTUTI