Topik
Obat Palsu Sulit Dibedakan
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kepala Pusat Penyidikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Weddy Mallyan menyatakan obat palsu sangat sulit dibedakan. Kebanyakan obat palsu, kata dia, menggunakan kemasan obat asli, memiliki warna, ukuran, dan cetakan yang persis sama dengan obat asli dan harga penjualan obat palsu tidak berbeda jauh dengan obat asli.
“Obat palsu hanya bisa dideteksi lewat laboratorium untuk mengecek takaran dan komposisinya,” kata Weddy dalam peluncuran situs www.stopobatpalsu.com di Jakarta, Selasa (17/3).
Karena secara penampakan kasat mata tidak berbeda, lanjut Weddy, pembeli obat tidak mengetahui telah mengonsumsi obat palsu. “Tidak ada orang yang secara sadar makan obat palsu untuk menyembuhkan penyakitnya. Tidak seperti saat membeli tas atau baju bermerek palsu,” katanya lagi.
Untuk itu, hanya ada satu cara tidak terjerumus memakai obat palsu, yaitu menghindar sebisa mungkin dengan hanya membeli obat dari toko obat/apotek yang jelas izinnya. “Jangan menukar resep dokter di sembarang apotek, meskipun harga yang ditawarkan lebih murah belum tentu obat yang diterima terjamin. Selain itu jangan mengkonsumsi obat sisa orang lain,” ujarnya.
Selain obat-obatan penghilang sakit, pemalsu obat juga memalsukan obat-obatan yang masuk kategori gaya hidup, seperti obat disfungsi ereksi, obat pelangsing, dan pemutih wajah. “Trennya mulai berubah. Obat yang berhubungan dengan gaya hidup dinilai lebih mudah dijual. Lagipula orang yang butuh obat-obatan gaya hidup biasanya malas berobat ke dokter dan memilih untuk membeli obat sendiri,” kata dia.
Tren pemalsuan obat-obat gaya hidup, tambah Weddy, baru terjadi tiga sampai lima tahun belakangan. Namun, ia menegaskan, meskipun trennya berubah bukan berarti obat-obatan penghilang rasa sakit tidak lagi dipalsukan.
REH ATEMALEM SUSANTI





