Topik
Badan Urusan Logistik dan Tengkulak di Banyumas Berebut Gabah Petani
TEMPO Interaktif, Purwokerto: “Saya membutuhkan uang secepatnya untuk biaya tanam padi lagi,” Kusworo, 56 tahun, Petani Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Jumat (20/3).
Kusworo mengaku menjual padinya sebelum masa panen. Sekitar setengah bulan sebelum panen, para tengkulak dari Jawa Barat sudah menawar padinya.
Menurut Kusworo, kalau harga gabah yang terjual ke tengkulak mencapai Rp 2.200, dia bisa membeli pupuk untuk musim tanam berikutnya.
Juru bicara Badan Urusan Logistik Sub Divisi Reginoal IV Banyumas, Priyono mengatakan, Bulog telah menerjunkan empat tim satgas yang langsung turun ke lapangan. Tim tersebut ke daerah pertanian yang belum ada mitra Bulog untuk pembelian gabah petani.
Priyono mengakui di wilayah Banyumas ada serbuan tengkulak dari Jawa Barat. Tengkulak tersebut berasal dari Ciamis, Banjarpatoman, dan Cianjur. Petani langsung memperoleh uang, sehingga harganya cukup rendah.
Tengkulak mudah membeli gabah petani, kata Priyono, karena mereka memberikan uang muka kepada petani. Sedangkan satgas Bulog tak bisa membeli gabah dengan uang muka.
Mengnaggapi masalah ini, Ketua Asosiasi Perberasan Banyumas, Faturakhman mengaku wajar dengan praktek perijonan tersebut. Menurutnya praktek tersebut tidak merugikan petani. Bahkan tengkulak sering rugi karena salah menaksir hasil panen.
Ia menilai praktek perijonan justru menguntungkan petani. Sebab, praktek tersebut memungkinkan petani mendapatkan uang terlebih dahulu untuk persiapan musim tanam berikutnya.
ARIS ANDRIANTO





