Pemerintah Belum Putuskan Induk Usaha Investasi
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara hingga kini belum memutuskan rencana holding (induk) perusahaan investasi. Menurut Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil pihaknya telah mengantongi sejumlah opsi holding.
Ketika didesak jumlah dan bentuk opsi yang telah dimiliki, Sofyan enggan membeberkannya. "Sudah ada studi, ada beberapa opsi," kata dia di kantor Kementerian Negara BUMN, Jumat (20/3).
Namun secara implisit Sofyan mengakui, salah satu opsi menjadikan PT Danareksa sebagai pemimpin holding perusahaan investasi. Dia melanjutkan, saat ini pemerintah masih terbuka mencari institusi yang bisa menjadi pemimpin holding. "Tak harus Danareksa, akan dilihat beberapa kemungkinannya."
Sofyan mengatakan pihaknya juga telah memiliki opsi struktur Single Presence Policy perusahaan investasi. Penerapan aturan SPP juga harus mengikuti ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. "Kami ada empat bank, maka perlu ada sebuah (holding) yang merefleksikan single presence," ucapnya.
Dia melanjutkan pembentukan holding perbankan dan jasa keuangan juga membutuhkan manajemen dan sumber daya yang berkualitas. "Kami perlu orang-orang kreatif. Kapasitas eksekutif juga sangat perlu ditingkatkan," kata Sofyan.
RIEKA RAHADIANA