PDI Perjuangan Daerah Sarankan Alternatif Contreng

TEMPO Interaktif, Semarang:Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Tengah mengakui konstituen PDI Perjuangan dari kalangan bawah yang tak terbiasa menggunakan bollpoint untuk mencontreng.

"Banyak calon legislatif kami yang mengeluhkan ngajari menggunakan bolpoin itu susah. Tahu sendiri kan, konstituen kami siapa. Beda dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang terbiasa menggunakan bolpoin,'' kata Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Tengah Nuniek Sriyuningsih, Senin (23/3).

Hingga kini, PDI Perjuangan merasa pendukungnya berasal dari masyarakat bawah atau wong cilik seperti sebutan partai yang diketuai Megawati Soekarnoputri ini. Atas dasar itu PDIP akan memberikan alternatif kepada paara pendukungnya terkait dengan cara memberikan tanda dalam kartu suara di tempat pemungutan suara (TPS). "Alternatif terakhir, kami minta agar dicoblos saja," katanya.

Nuniek memiliki gambaran bahwa pencoblosan itu menggunakan bolpoin yang sudah disediakan panitia pemungutan suara. ''Kalau memang susah contreng, ya dicoblos saja,'' kata dia.

Kebijakan ini akan diambil jika memang dalam sosialisasi mencontreng terbukti tak bisa menambah suara PDI Perjuangan.

Anggota Pengawas Pemilu Jawa Tengah Rahmulyo Adiwibowo mengakui, pihaknya sering mendengar adanya partai politik yang akan menggunakan paku untuk memberikan tanda suara dalam kartu suara dalam Pemilu 2009. ''Saya dengar ada parpol yang akan membagikan paku bagi pemilih maupun konstituennya,'' kata Rahmulyo.

Persoalan penggunaan paku untuk mencoblos ini, menurut Rahmulyo, terus mengemuka diberbagai forum diskusi dengan partai politik. Partai politik berasalan, meski tidak diatur dalam undang-undang maupun peraturan KPU tapi mencoblos surat suara akan dianggap tetap sah. "Daripada sulit-sulit mengajari konstituennya memegang bolpoin untuk berikan centrang lebih baik memilih gunakan paku lebih mudah,'' kata Bowo.


ROFIUDDIN | SOHIRIN