Daftar Isian Lelet, Proyek Stimulus Molor

TEMPO Interaktif, Jakarta: Proyek yang didanai anggaran stimulus siap dilaksanakan setelah ada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), namun hingga saat ini daftar isian tersebut belum turun sehingga proyek-proyek yang dibiayai dengan anggaran stimulus juga belum bisa dikerjakan.

"Belum terlambat, toh tidak ada jadwal tetapnya kapan turun. Ini proses biasa, karena memang DIPA juga belum turun," ujar Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Departemen Pekerjaan Umum Djoko Muryanto ketika dihubungi Tempo, Senin (23/3).

Menurut Djoko, daftar isian tersebut masih dalam pembahasan di Departemen Keuangan. Diperkirakan bulan depan, dana tersebut sudah turun. "Jika sudah selesai pembahasan, kami langsung laksanakan proyek-proyek yang sudah diusulkan dan ditetapkan," kata Djoko.

Dia juga menampik anggapan saat ini dana stimulus lambat dicairkan. Menurut Djoko, hal itu baru akan dilaksanakan setelah menunggu DIPA turun. Dia pun mengatakan proyek-proyek yang sudah dilelang dan belum dilelang juga menunggu setelah DIPA turun.

Djoko mengatakan proyek yang dibiayai dari stimulus ini diusulkan dari Departemen Pekerjaan Umum dan diajukan ke Departemen Keuangan dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, serta Menteri Koordinator Perekonomian. Ketiga lembaga pemerintah ini yang menetapkan usulan proyek yang akan dibiayai dengan dana stimulus tersebut.

Dia juga mengatakan proyek yang diusulkan mendapat pendanaan dari stimulus tersebut karena adanya kebutuhan. "Karena memang diperlukan, misalnya yang rusak diperbaiki, yang tadinya diperkirakan berhenti jadi dilanjutkan," ucapnya.

Menurut Djoko, dana stimulus itu tidak hanya bisa menyerap sejumlah tenaga kerja tetapi juga menimbulkan efek ekonomi yang lebih besar.

Dalam rapat dengan Komisi Bidang Infrastruktur dan Perhubungan 16 Februari lalu, Menteri Pekerjaan Umum mengusulkan program yang didanai stimulus sebesar Rp 8,232 triliun. Namun akhirnya pemerintah menyetujui stimulus untuk infrastrukur mencapai Rp 10,2 triliun yang belakangan meningkat menjadi Rp 12,2 triliun.

DIAN YULIASTUTI