Rehabilitasi Kebun Kakao Diragukan Berjalan Mulus

TEMPO Interaktif, Jakarta: Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) meragukan keberhasilan Gerakan Rehabilitasi Kebun Kakao yang dicanangkan pemerintah. Alasannya kegiatan ini rawan dalam pelaksanaan dan pengawasan karena sulitnya mencari pohon yang bermutu.

Ketua Asosiasi, Halim Abdul Razak, mengatakan gerakan pemerintah ini cukup baik untuk mendukung peningkatan mutu dan produksi kakao nasional. Gerakan ini terdiri dari tiga kegiatan yakni intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan.

Namun, menurut dia, kegiatan rehabilitasi inilah yang membutuhkan usaha paling keras di antara kegiatan lainnya. "Kalau intensifikasi dan peremajaan kami yakin, tapi kalau rehabilitasi kami masih tanda tanya," ujarnya kepada Tempo, Selasa (24/3).

Menurut dia, petani kakao belum mempunyai pengalaman yang cukup untuk melakukan rehabilitasi. Kegiatan yang dimaksud adalah memilih pohon kakao yang masih baik dan bermutu kemudian dicangkok untuk mendapatkan hasil yang bagus.

Halim mengatakan untuk mencari pohon yang baik harus mencari hingga pelosok-pelosok dan tersebar areanya. "Kami khawatir hal ini rawan, sulit dievaluasi dan dimonitor. Tersebar di seluruh tempat, takutnya tidak benar-benar dilaksanakan," ucapnya.

Askindo, kata Halim, sudah mengusulkan program ini lebih banyak untuk melatih petani melakukan cangkok sambung samping dan pemerintah membangun kebun pucuk untuk cangkok. "Jadi pemerintah tidak perlu sampai turun cari pohon," tambahnya.

Hingga tahun lalu produksi kakao mencapai 500 ribu ton, menurun dari 2007 sebanyak 570 ribu ton. "Kalau program ini berhasil ya maksimal mungkin 500 ribu ton sudah cukup bagus," ujarnya.

Namun, Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Manggabarani menampik pernyataan Halim. "Siapa yang meragukan, sekarang saja petani sudah banyak yang terampil merehabilitasi," katanya kepada Tempo.

Menurut dia, program ini tidak ada masalah dan sudah mulai berjalan. Petani berpengalaman sejak tiga tahun lalu dan petani sudah mulai banyak melakukan pencangkokan sambung samping. "Memang skalanya masih kecil tapi sudah ada yang kelihatan hasilnya," tuturnya.

Manggabarani juga mengatakan program ini untuk menambah mutu produksi dan volume kakao di Indonesia. Program ini juga dilakukan oleh petani sendiri bukan oleh pihak ketiga. Petani sendiri, kata dia, sudah terampil dan mendapatkan banyak pelatihan.

Senin (23/3) malam Menteri Pertanian Anton Apriantono menyerahkan anggaran sebesar Rp 983,7 miliar untuk sembilan provinsi dan 40 kabupaten untuk gerakan peningkatan mutu dan produksi Kakao.

Untuk peremajaan kebun kakao akan dilaksanakan terhadap lahan seluas 20 ribu hektare, untuk intensifikasi seluas 65 ribu hektare, dan rehabilitasi mencapai 60 ribu hektare. Dana yang diperlukan untuk gerakan tersebut selama 2009-2011 diperkirakan mencapai Rp 13,7 triliun.

DIAN YULIASTUTI