Topik
Jelang Nyepi, Umat Hindu di NTB Lakukan Ritual Tawur Kesanga
TEMPO Interaktif, Mataram: Umat Hindu di NTB, diperkirakan berjumlah 400 ribu, mengadakan upacara Tawur Kasanga, Rabu (25/3). Pelaksanaannya dimulai dari pekarangan rumah (karangan) hingga pura (mancakelod).
Ritual yang juga disebut sebagai Mecaru ini bertujuan simbolis, melaksanakan korban untuk Buta Kala demi keseimbangan antara sifat raksasa pada manusia menjadi sifat Dewa.
Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia NTB, Komang Gerudug, menjelaskan bahwa dijadikannya mahluk raksasa sebagai korban karena besok melaksanakan Catur Brata Nyepi.
‘’Catur Brata Nyepi bertujuan Mulat Sariro atau berusaha mencari jati diri menuju alam Sunya,’’ katanya, Rabu (25/3).
Dalam melaksanakan Catur Brata Nyepi, terdiri dari Amati Geni (tidak boleh menyalakan segala jenis api termasuk api hawa nafsu negatif), Amati karya (tidak melakukan segala aktivitas kerja), Amati Lelanguan (tidak menikmati segala jenis hiburan), Amati Lelungan (tidak bepergian) kesemuanya disertai Upawasa yaitu puasa tidak makan dan tidak tidur., serta mona brata atau tidak bicara.
Menjelang sore hari, sebelum upacara Buta Yadnya atau Tawur Kesanga di Cakranegara, diawali dengan arak-arakan remaja Hindu menggotong lebih 50 buah Ogoh-Ogoh dari depan Pura Dalem Karang Jangkong sejauh satu kilometer.
Meskipun arak-arakan Ogoh-Ogoh bersifat budaya tetapi juga dikaitkan dengan upacara Tawur Kesanga dengan ujud Buta Kala yang artinya perwujudan hal-hal yang angker karena inti dari upacara tawur kesanga itu adalah memohon keseimbangan agar terhindar dari gangguan kehidupan. Kekuatan negatif diwujudkan di antaranya dalam bentuk ogoh-ogoh.
SUPRIYANTHO KHAFID