Topik
Umat Hindu Jalani Nyepi setelah Perayaan Ogoh-ogoh
TEMPO Interaktif , Denpasar: Umat Hindu di Bali mulai menjalani ritual Nyepi yang berlangsung mulai Kamis (26/3) pukul 06.00 WITA hingga Jum’at (27/3) pukul 06.00 WITA. Mereka harus menjalani amati geni (tidak menghidupkan api/cahaya), amati lelanguan (tidak bersenang-senang), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati karya (tidak bekerja).
Serangkaian ritual ini, pada Rabu (25/3) malam, umat Hindu telah menjalankan tradisi pengerupukan. Yakni upaya mengusir roh jahat dari lingkungan rumah dan pekarangan dengan berbagai bunyi-bunyian serta dengan mengasapi lokasi rumah mereka. Pada tahun-tahun sebelumnya, Pangerupukan dilanjutkan dengan pawai Ogoh-ogoh yang merupakan simbol kejahatan kemudian melakukan pembakaran boneka raksasa itu. Namun tahun ini disepakati, Desa Adat tidak melakukan tradisi itu untuk menjaga keamanan serangkaian pemilihan umum 2009.
Satu-satunya pawai Ogoh-ogoh berlangsung di kawasan wisata Kuta Bali. 12 banjar di desa adat ini mengarak 2-3 Ogoh-ogoh dalam lomba yang berlangsung di depan Pura Desa. Menurut Bupati Badung AA Gde Agung, izin bagi pawai di Kuta karena Ogoh-ogoh sudah menjadi atraksi wisata tahunan yang mengundang turis untuk datang ke Bali. “Kita lestarikan tradisi sekaligus sebagai ajang kreativitas anak muda,” ujarnya.
Ogoh-ogoh dibuat dengan kerangka dari bambu kemudian diisi kertas atau gabus. Bentuknya mengacu pada tokoh-tokoh jahat maupun tokoh pahlawan dalam cerita Ramayana dan Mahabharata.
Selain itu dibuat pula Ogoh-ogoh kontemporer dari kehidupan sehari-hari. Dibuat selama 1-2 bulan, biaya pembuatannya mencapai Rp 3-6 juta tergantung ukuran serta detail bentuknya. “Biayanya kami cari dari donator, “ kata Ketua Sekaa Teruna Banjar Pering, Kuta Dewa Made Suartana.
ROFIQI HASAN