Walhi Tolak Penambahan Produksi Kaltim Prima Coal

TEMPO Interaktif, Banjarmasin: Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Timur menolak rencana penambahan produksi batu bara Kaltim Prima Coal. Perusahaan dari Group Bumi Resources ini hendak menambah produksinya dari 48 juta metrix ton batubara menjadi 70 juta metrix ton

"Beban tambahan bagi lingkungan hidup di Kalimantan Timur," kata Direktur Walhi Kaltim, Izal Wardhana, Jumat (3/4).

Izal mengatakan, eksploitasi batu bara KPC telah mengakibatkan kerusakan lingkungan, bukan hanya di Kutai Timur namun juga di seluruh Kalimantan Timur. Baru 7 tahun melakukan aktifitas pertambangan, telah berdampak negatif terhadap seluruh masyarakat.

Studi Walhi pada 2008, kata Izal, menunjukan pertambangan KPC mengakibatkan pencemaran air Sungai Sengata. Sungai ini dulunya merupakan mata pencarian masyarakat nelayan setempat. "Sekarang tidak ada ikan lagi disitu. Air sungai sudah keruh oleh limbah sisa pertambangan KPC," ungkapnya.

Akibat pencemaran ini, masyarakat juga tidak bisa lagi mengkonsumsi air Sungai Sengata untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat terpaksa membeli air tidak tercemar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Untuk mandi saja menyebabkan penyakit kulit seperti gatal-gatal," tuturnya.

Selain itu, sedimentasi Sungai Sengata mengakibatkan bencana banjir yang terjadi setiap tahunnya di Kutai Timur.

Secara langsung, pertambangan berdampak pula terhadap penurunan populasi satwa penting yang bersifat endemik seperti orangutan ( pongo pygmaeus ), kijang (muntiacus muntjak) ,payau (cervus unicolor) dan babi hutan (susbarbatus). Saat ini populasinya mengalami penurunan drastis.

Menurut Izal, prosedur pertambangan KPC ini melanggar prosedur kerja sistem pertambangan terbuka. Pengupasan lahan menyebabkan hilangnya hutan primer, sekunder tua, sekunder muda yang berfungsi dalam pengendalian aliran air permukaan.

Walhi Kaltim memberikan rekomendasi pada daerah untuk menolak penambahan produksi KPC. Izal mengaku tidak bisa membayangkan tingkat kerusakan lingkungan akibat penambangan di masa mendatang.

"Tidak sebanding dengan coorporate social responsibility KPC," ujarnya.

Perusahaan milik Bakrie Group ini meminta ijin tambahan produksi batu bara hingga 70 juta metrix ton setiap tahunnya. Padahal, produksi saat ini 48 juta metrix ton sudah merupakan produksi batu bara terbesar seluruh dunia.

SG WIBISONO