Bank Negara Diminta Cepat Merespon Penurunan Bunga

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil kembali meminta bank-bank negara menurunkan suku bunga untuk merespon langkah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 7,5 persen.

"Memang ada time lag response dalam penurunannya karena seluruh bank plat merah baru saja menurunkan bunga, tapi saya harap bank BUMN segera merespon penurunan BI rate sekarang," kata Sofyan di Jakarta, Jumat (3/4) malam.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pda Jumat (3/4) memutuskan menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjdi 7,5 persen.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Boediono, jumlh penurunan bunga acuan itu dianggap yang terbik dengan mencermati kondisi ekonomi.

Penurunan tingkat suku bunga tersebutdiykini tidk akan memberi tekanan pada nilai rupiah.

Bank sentral berharap Bank kalangan perbankan segera merespon penurunan suku bunga acuan dengan menurunkan pula suku bunga kreditnya.

Ketua Umum Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) Agus Martowardojo beberapa waktu lalu mengatakan bank-bank negara akan terus menurunkan suku bunga kredit jika BI rate turun.

Menurut dia, klau bnk-bank negara sudah menurunkan suku bunga maka pihaknya berharap bnk lain mengikuti lngkh serupa.

Namun, dia mengkui bahwa setiap bank mempunyai kondisi yang berbeda.

Pasalnya, penurunan suku bunga kredit tergantung dari beberapa faktor seperti biaya dana, kecukupan likuditas, dan selisih yang diperlukan untuk menangani risiko.

PT Bank Tabungan Negara (BTN) menurunkan suku bunga kredit kepemilikan rumah sebesar 50 basis poin atau 0,5 persen menjadi 14 persen.

Suku bung baru ini hanya diberlkukan bagi calon nsabah yang baru.

Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan penurunan suku bunga KPR itu dilakukan karena manajemen melihat ada peluang penurunan dari bunga dana yang sampai saat ini terus disesuaikan.

Pada Januari 2008, kredit yang dikucurkan sebesar Rp 624 miliar. Pengucuran kredit mengalami kenaikan pada Januari 2009 sebesar Rp 772 miliar.

Pada Februari 2008 kredit yang dikucurkan tercatat Rp 873 miliar. Februari 2009 menjadi Rp 1,13 triliun.

Sofyan mengemukakan bahw meskipun keputusan menurunkan suku bunga kredit memerlukan waktu, dia berharap bank BUMN terus mengkaji rencana penurunannya.

Pasalnya, kalau bunga kredit rendah maka masyarakat yang membutuhkan dana akan pindah ke bank itu dan menjadi nasabah baru.

EKO NOPIANSYAH