Topik
Infografis
Kerugian Akibat Jatuhnya Pesawat Fokker Belum Bisa Ditaksir
TEMPO Interaktif, Bandung:Tragedi jatuhnya pesawat Fokker milik TNI AU terjadi ketika insiden Situ Gintung belum hilang dalam ingatan. Ketika pesawat itu menghantam hanggar unit Aircraft Services (ACS), PT Dirgantara Indonesia, di sana sedang diperbaiki 5 pesawat dan 1 helikopter.
Pesawat yang dalam perawatan di bengkel itu yakni 2 pesawat Boeing 737, 2 pesawat CN-235 yang siap dikirim ke pemesannya di Prancis, 1 pesawat NC 212-200 milik Deraya, serta 1 unit helikopter jenis Robinson.
Direktur Aircraft Integration PT Dirgantara Indonesia Budi Wuraskito mengatakan mengatakan, akibat kecelakaan itu yang terlihat rusak paling parah adalah pesawat milik Deraya yang tertimpa komponen sayap center wing Foker milik TNI. Pesawat NC 212-200 itu rencananya akan dikirim kembali akhir pekan ini setelah rampung pengerjaannya. “Lalu 1 pesawat (Boeing) 737, kelihatannya juga kena, tapi nggak terlalu banyak, kita musti lihat nanti dampaknya bagaimana kita belum tahu,” kata Budi, Senin (6/4).
Dia mengatakan, pihaknya belum memastikan kapan hanggar itu bisa digunakan kembali. Masalahnya, jelasnya, jika pembersihan sudah selesai, struktur bangunan hanggar itu tetap harus diperiksa. Akibat hantaman Foker milik TNI AU itu sempat membakar atap hanggar itu. Baja yang menjadi struktur hanggar itu harus diperikas kekuatannya karena kekuatan material baja bisa melemahkan akibat terbakar.
Budi mengatakan, belum bisa menghitung kerugian yang diderita PT Dirgantara
Indonesia akibat kejadian itu. “Belum sampai keluar angka,” katanya. Pihaknya, paparnya, masih menginventarisir kerusakan yang terjadi akibat kejadian itu. Termasuk, lanjutnya, untuk mengabarkan customer yang menunggu pesawatnya rampung.
AHMAD FIKRI
Web via