Topik
Qantas Catat Kerugian Besar Babak Kedua
TEMPO Interaktif, Sydney: Qantas Airways, maskapai penerbangan terbesar di Australia, memprediksi kerugian terbesarnya babak ekdua setidaknya dalam satu dekade dan akan memangkas 1.750 karyawan saat permintaan bisnis penerbnagan anjlok.
Saham masakapai itu turun sebelas persen, terbanyak dalam dua bulan terakhir, dalam perdagangan saham di Sydney, Australia. Maskapai itu diperkirakan mengalami kerugian $A 188 juta sebelum pajak, demikian menurut pernyataan perusahaan tersebut Selasa (14/4).
Pemangkasan karyawan itu setara dengan lima persen jumlah karyawannya, terbesar sejak Chief Executive Officer Alan Joyce mengambil alih posisi itu lima bulan silam. Perusahaan penerbangan yang berbasis di Sydney ini juga menjadi perusahaan terakhir yang menunda pengiriman Airbus SAS A380 sebagai reaksi atas jatuhnya perekonomian global dari bisnis perjalanan premium travel sejak bangkrutnya Lehman Brothers Holdings Inc. tahun silam.
“Qantas terjebak dalam kiamat lantaran tak banyak permintaan penumpang," kata Jim Eckes, direktur pelaksana perusahaan kosultan penerbangan Indoswiss Aviation. “Jadi ketika ada penurunan dan ibarat orang lain menderita demam, Qantas menderita pneumonia (infeksi paru). Mereka harus mengambil langkah serius agar bisa bertahan."
Qantas akan mengumumkan keuntungan tahunan sebelum pajak senilai antara A$ 100 juta hingga A$ 200 juta, turun dari A$ 500 juta, demikian diungkapkan perusahaan itu pada bursa saham Australia hari ini. Dalam enam bulan yang berakhir Desember, Qantas memperoleh keuntungan sebelum pajak sebesar $A 288 juta. Tapi Joyce sendiri telah memastikan perusahaan tersebut akan mengalami kerugian.
Harga saham Qantas jatuh A$ 1,74 dan diperdagangkan pada $A 1,81 per lembar, Selasa siang waktu Sydney. Saham tersebut sudah turun 31 persen tahun ini.
BLOOMBERG | BOBBY CHANDRA